“Apapun Buatmu Nak,..”

Posted in Pengalaman Pribadi with tags on Juli 25, 2015 by radityariefananda

Akhirnya saya mengetahui namanya, Wildan. Dan beberapa menit kedepan, sosok yang duduk dihadapan saya itu ku panggil Bang Wildan.

Disamping saya, duduk seorang sahabat bernama Boby. Saat itu, Kami bertiga sedang berbincang tentang rencana membangun wadah social engineering berbasis digital campaign sebagai ladang amal.

Sambil menikmati hidangan di sudut cafe salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Barat, obrolan mengalir.

Ditengah perbincangan ngalor ngidul, saya mengetahui bahwa Bang Wildan adalah seorang ayah bagi dua orang anak. Yang sulung, berusia sebelas tahun dan duduk di bangku Sekolah Dasar, sedangkan adiknya si-bungsu, masih belum bersekolah. Mereka adalah mutiara yang dia banggakan.

Bang Wildan melanjutkan ceritanya.

Dia dulu adalah salah satu karyawan setingkat manajer di salah satu perusahaan printing di Jakarta. Dan itu semua mendadak dia tinggalkan hanya karena protes salah satu anak nya yang menginginkan agar bisa selalu sering bersama di rumah.

Saat masih bekerja kantoran, aktifitas memang sering menyita waktu kebersamaan bersama buah hati dan isterinya. Namun kini,keputusan itu telah diambil. Demi anak-anak tercinta, dia korbankan jabatan itu.

Setelah berhenti sebagai manajer di perusahaan tadi, dia mengerjakan apa saja yang dapat menghasil kan di rumah.

Intinya, berjuang kembali mengais rizki dari nol, tanpa ingin menggadaikan waktu nya pada orang lain yang dia sebut atasan. Ya,..dia ingin mengerjakan apa saja asalkan tidak mengganggu waktu nya bersama keluarga di rumah.

Berjalan nya waktu, ujian finansial mulai terasa. Isteri nya yang hanya ibu rumah tangga, belum mampu membantu mencukupi sisa tabungan untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun Tuhan tidak pernah salah memberikan kebahagiaan. Keluarga mereka nampak tidak terpengaruh dengan kondisi tersebut. Melalui anak – anak, Tuhan menitipkan kekuatanNya.

Anak-anak Bang Wildan dengan keceriaan selalu menguatkan dirinya. Seolah mereka memahami, bahwa kondisi yang mereka rasakan adalah konsekwensi dari permintaan yang mereka sampaikan kepada ayah nya. Begitu dewasanya mereka.

Saya bertanya – Tanya, bagaimana bisa Bang Wildan mengajarkan psikologi dasar anak yang notabene tidak terbendung hasrat dan keinginan nya. Nasehat seperti apa yang membuat anak – anak nya tetap ceria memahami semua ujian yang dihadapi orang tua nya. Sungguh sabar anak-anak itu.

Kekuatan semacam inilah yang memberikan respon balik dalam diri Bang Wildan, bahwa dia harus memberikan pengorbanan lebih dari pengorbanan yang dilakukan oleh buah hatinya. Ya,..apapun akan dilakukan oleh Bang Wildan demi anak-anak nya.

Suatu hari saat benar-benar tidak memiliki biaya sama sekali di tengah kota sebesar ini, Bang Wildan harus mengantar anak nya ke sekolah. Dia berjalan kaki pulang pergi dari rumahnya di bilangan warung buncit selama kurang lebih 2 jam perjalanan sekali jalan. Putranya? Ia gendong dipunggunya selama perjalanan. Kasihan, takut capek katanya. MasyaAllah,..,

Mungkin itu Nampak biasa.
Dilakukan oleh sorang ayah demi anak nya yang akhirnya saya ketahui memiliki prestasi bagus di bidang olah raga sepak bola. Iya, anak nya pernah menjuarai beberapa turnamen. Wajar saja jika sang ayah tidak ingin membiarkan nya kecapekan berjalan kali pulang pergi ke sekolah.

Namun ketegunan saya tidak sampai disitu.

Saat berkesempatan mengunjungi rumah Bang Wildan, benar saja. Hubungan antara ayah dan anak terlihat begitu harmonis. Malah sangat harmonis. Semua seolah tidak terjadi apa-apa, padahal setelah beberapa wakyu mengenal Banng Wildan, saya tau jelas berat nya beban yang ada di pikiran Banng Wildan. Namun di depan kedua anak nya, semua itu benar-benar tidak Nampak sama sekali.

Dirumah itu, saya kembali berpikir, seperti apa teduh nya Bang Wildan saat memberikan nasehat dan pelajaran pada anak – anak nya hingga bisa menurut dan memahami sedemikian rupa pada kondisi yang terjadi pada orang tua nya.

Tiba-tiba si-bungsu datang, dan duduk manja di pangkuan Bang Wildan. Dia lapar dan ingin makan kata nya. Lembut dan manja. Saya juga ingin sekali menjadi Ayah buat anak selucu dan semanja itu.

Saya terus memperhatikan kemanjaan nya. Mensyukuri ilmu yang saya lihat nyata didepan mata tentag hubungan ayah dan anak yang diliputi kemanjaan dan harmonisasi sebagai sama-sama mahkluk tuhan. Ayah nya, terus mengajaknya berdialog. Seolah ingin menunjukan pada dunia “ini lho anak saya,..”

Kemudian anaknya kembali mengingatkan rasa laparnya. Dan sebelum Bang Wildan bangkit dari duduknya, si-bungsu itu memegangi kedua pipi sang ayah menatapnya lembut.

Aku coba menyimak ucapan nya.

“Gakpapa kok ayah,..nisa makan pake garam lagi seperti kemarin,..ayah jangan sedih ya”

Saya langsung memalingkan pandangan mata kesebelah kiri, melintasi bahu dan menatap tembok. Entah apa yang tergantung di tembok itu saya tidak memperhatikannya.

Mata ini mulai sembab,…

Silahkan kunjungi dan baca juga artikel saya lainnya di sini :

http://radityariefananda.wix.com/penulisbebas

“SAAT SAYA INTERVIEW,…”

Posted in Pengalaman Pribadi on Juli 25, 2015 by radityariefananda

Masih ingat waktu dulu saat-saat mencari kerja sebelum keterima di perusahaan ini.

Seorang ibu paruh baya dengan porsi tubuh yang jumbo dari bagian HRD, terasa tegang sekali memberikan pertanyaan seputar pengalaman kerja yang saya miliki.

Saya santai aja menjawab semua pertanyaan itu.

Ditangannya, lembaran berkas lamaran yang beberapa menit sebelum nya saya serahkan, terus dia amati dan teliti.

Entah dibaca beneran, atau cuma diamati bagian fotonya, saya gak mengetahui dengan pasti.

Saya bertanya dalam hati, apa mungkin foto saya mirip Jet Lee?? Atau mungkin foto saya mirip koruptor?? Atau jangan-jangan,..foto saya mirip dengan mantan suaminya yang saat ini kabur dengan wanita lain??

Kok ngeliatnya kaya pengen ngerobek lembaran CV saya gitu. Ngerobek ala Tessy di serial srimulat,..”Benci akuuu,..!”

Akhirnya, tibalah pada pertanyaan yang selalu membuat saya merasa bersalah pada banyak orang yang menanyakan apa yang mereka baca di CV saya.

Ibu Gendut HRD : “Ini apa maksudnya, “ahli dalam meniduri orang lain” ??

Saya : “Ohh,..itu begini bu. Mungkin sebagian kebaikan yang saya miliki untuk membantu orang-orang yang
insomnia dimalam hari.”

Ibu Gendut HRD : “Maksudnya gimana?”

Saya : “Ya,..beberapa temen kalo mereka malam hari susah tidur, biasanya akan menelpon saya.
Lalu saya disuruh ngomong ngalor – ngidul, sampe akhirnya saya mendengar suara temen saya sudah
ngorok. Dan saya ngecuprus sendirian. Mungkin suara saya seperti radio rusak di era 50-an kali ya
bu,..hehe,..

Ibu Gendut HRD : “Ohh,..gitu,..kirain nidurin gimana mas,..”

Saya : “Ahh,..gak gimana-gimana bu. Ibu mau nanti malam saya tidurin??!”

Ibu Gendut HRD : (Nelen ludah,..”gleg”)

Kemudian Ibu gendut HRD itu merubah posisi duduknya, dan mencondongkan tubuhnya lebih keatas disisi bagian meja nya.

Suasana nampaknya mulai mencair. Pertanyaan dia lanjutkan.

Ibu Gendut HRD : “Nahh,..kalo ini juga, apa maksudnya “Bakat juga menjadi pencahar”??”

Saya : “Ohh,..itu juga sama bu, mungkin kebaikan saya”.

Ibu Gendut HRD : “Apalagi itu maksudnya,..?”

Saya : “Jadi gini bu,..beberapa teman, kalo ada yang susah boker, mereka bilang akan ngeliatin poto saya
secara seksama. Fokus mengamati keseluruhan muka saya di foto itu. InsyaAllah mereka akan kebelet
boker bu”.
Mungkin muka saya mirip seperti septiteng ya bu?
Ibu tau kan septiteng?? Itu lho,…tempat yang buat buangan tai kalo kita boker.
Ibu beneran tau septiteng kan,..??
Beneran kan bu,..?? Sumpah bu??” (nyerocos)

Ibu Gendut HRD : (Diam membisu)

Kemudian Ibu Gendut HRD itu kembali merubah posisi duduknya. Dia sandarkan punggungnya di sandaran kursi empuknya. Dan memandangi muka saya lama sekali.

Pandangannya dalam. Saya sampe salah tingkah. Dan tegang tentunya.

Saya : “ Jadi gimana bu, mau saya bokerin??”

Saya mencoba memecah kebisuan. Tapi tidak berhasil.

Ibu Gendut HRD itu tetap tidak merespon. Pandangannya makin dalam memperhatikan wajah saya.

Sampai akhirnya dia sedikit merubah posisi duduk nya lagi. Tubuhnya agak miring sedikit.

Dan masih dalam keheningan sama-sama diam. Saya pasrah saat itu. Benar-benar pasrah.

Sepertinya, ada yang salah dalam penjelasan saya sebelumnya. Atau mungkin saya terlalu semangat membahas “septiteng”,.!

“Ahh,..sudahlah. Mungkin dia lelah.”, batin saya.

Tiba-tiba dia menghela nafas panjang lalu tersenyum dan mengatakan sesuatu.

“Ahhhh,….Ternyata benar apa yang diucapkan teman-teman mu mas,..muka mas memang seperti,…emmm apa itu tadi namanya,..?”, dia berujar singkat.

“Septiteng bu,..!”, saya semangat.

“Terimakasih Tuhan,..Engkau telah membuatnya paham,….”, saya bersyukur.

Tapi,…Ealaaaah,…sialan ternyata dia kentut…

Silahkan kunjungi dan baca juga artikel saya lainnya di :

http://radityariefananda.wix.com/penulisbebas

Curriculum Vitae of Me

STOP POSTING & SHARE KONTEN NEGATIF,..!

Posted in Pengalaman Pribadi on Juli 25, 2015 by radityariefananda

stop-for-negative-content

Akhirnya,..gak tahan juga buat komentar.

Terkadang heran aja sama pribadi-pribadi yang mengatas namakan dirinya tokoh masyarakat lah, pimpinan organisasi lah, pengurus pesantren lah, guru ngaji lah, staff ahli lah, politikus lah,..pleketek lah,…

Mereka hobi banget ya menulis atau membagikan sesuatu di socmed tentang keburukan atau kejelekan orang lain dengan alasan sebagai penyeimbang kebijakan lah, sebagai counter lah, filter lah, kritikan terhadap sesuatu lah.

Bentuknya rupa-rupa, ada screenshoot, ada artikel, ada poto blablabla,…

Apa sih yang sesungguhnya dicari? Liker? komen-komen? fans? penggemar? Temen curhat? Dukungan?? Ahh,..tepok jidat!

Disatu sisi, kadang saya bertanya, apa mereka lupa dengan status dirinya sendiri yang sejatinya adalah orang baik?
orang baik bukannya harusnya menyebarkan kebaikan??

ohh come on,..kritikan, masukan, saran, ulasan,..sampaikan lah secara bijak, dan sasar langsung pada pihak atau stake holder yang bersangkutan. Gunakan PM (Personal Message : Pesan Pribadi) lewat inbox nya kek, obrolan kek, jadi gak menyebar kemana-mana meng-ghibahkan orang lain.

Come on guys,..

Ini jaman modern,..kita bisa mencari dengan sangat mudah kontak seseorang/lembaga/instansi/ yang ingin kita beri masukan, kritik,saran atau bahkan cacian sekalipun. Bukan membagi-bagikan pada khalayak ramai tentang berita atau keburukan pihak-pihat tertentu itu.

Saya lebih interest sama seseorang yang berani mengumbar kejelekan dirinya sendiri di khlayak ramai. Di sosial media. Dari pada mengumbar keburukan pihak lain, dengan cara yang buruk dan menghasilkan sesuatu yang buruk pula. Apasih hasil nya? Nothing,.!

Coba sekali-kali umbar kejelekan diri sendiri, istri or suami sendiri, anak sendiri atau saudara sendiri. Itu baru ajib,.!

“Hari ini saya membohongi pelanggan saya. Sehingga keuntungan saya berlipat ganda” (UPLOAD POTO)
“Adik ipar saya seminggu yang lalu ketawan selingkuh dikeroyok warga. Ini poto nya saya upload!”
“Paman saya yang guru SD, abis memukuli murid nya. Gimana menurut teman-teman?” (UPLOAD POTO)
“Kay gue dong,..isteri kerja, gue tidur-tiduran di rumah. (UPLOAD POTO SELFIE)”
“Nih LUCU,..!! Abang gue memperkosa kecoa,..!” (UPLOAD POTO)

itu lebih bagus deh daripada harus membicarakan kejelekan pihak lain.

Kemudian saya juga berpikir, bukannya masih banyak konten baik yang bisa di bagikan pada orang lain. Ada konten lucu, sedih, haru, bahagia, kreatifitas blablabla,..yang akhirnya justru akan menginspirasi orang lain.

Kita akan dinilai baik, apa yang kita bagikan pun bisa menjadi ladang amal dan pahala…

OOhh Lord,..masih banyak banget mbah google menyediakan konten-konten positif yang bisa dibagikan untuk kebaikan…ada dalam bentuk artikel, foto, video,..blablabla,..

Ahhh,..mungkin orang-orang yang hobinya membagi-bagikan kejelekan orang lain itu, sudah merasa dirinya paling benar kali ya.

Atau mungkin memang sudah hobinya seperti itu. Selalu memandang sesuatu dari kacamata negative, sehingga cara yang dilakukan untuk memberikan masukan dan kritik pun tidak jauh beda dengan pihak yang mereka kritisi. Negatif,.!

Memang itu semua hak pribadi masing – masing sih. Tapi ingat, “hak” juga mempunyai kawan yang bernama “kewajiban”. Kewajiban melakukan hal baik, termasuk menyebarknan informasi baik dengan cara yag baik.

Saya bukan orang baik, bahkan sangat sangat sangat jauh untuk dikatakan sebagai orang baik. Tapi paling tidak, saya belajar memanfaatkan teknologi untuk sesuatu yang baik, dengan cara yang baik, agar menghasilkan silaturahmi yang baik pula.

Sehingga saya berusaha untuk menghindari sekecil mungkin membagikan konten buruk yang akan memancing respon buruk pula.

Jadi gimana sebaiknya kita menaggapi sesuatu hal (orang, instansi, lembaga, menteri, presiden blablabla) yang kita anggap buruk.?

Ya sampaikan aja uneg-uneg sama pihak – pihak yang bersangkutan itu untuk direspon. Sampaikan pesan personal.

Kalo masih gregetan ingin di share ke khalayak ramai, ya share aja dengan catatan, tetaplah pada pakem santun kita sebagai manusia yang beradab. Berkomentar yang baik dan mengkritisilah dengan cara yang cerdas.

Tapi buat saya pribadi, jika tidak ada respon dari pihak – pihak yang kita sasar. Ya udah, bukan berarti harus saya informasikan ke publik keburukan yang mereka lakukan.

Saya cukupkan aja sebagai informasi pribadi. Udah,..cukup di otak saya aja. Oh kementrian itu begini, Oh menteri itu begitu, Oh Si Fulan begini, Oh Si Fulun begitu. Cukup,.!

Sekarang kita membagikan informasi negatif, memancing komentar negatif, balasan-balasan saling komentar negatif pula. Sedangkan pihak yang dikomentari, masih enak-enak-an makan tidur di rumah nya. Huh,..apa coba hasilnya.?

Sempat gitu, kalo kita dah sakaratul maut trus menemui mereka terlebih dahulu untuk meminta maaf atas ghibah yang kita pernah lakukan??
Sempat gitu ke rumah Jokowow buat minta maaf saat ajal sudah sampai kerongkongan??
Sempat gitu ke rumah Prabowow buat minta maaf saat ajal sudah sampai kerongkongan??
Sempat gitu ke rumah pak yai ini, artis itu, si ini dan si itu buat minta maaf saat ajal sudah sampai kerongkongan??
Kita nya mungkin bisa sempet, malaikat maut nya itu yang di uber-uber deadline buat nyabut nayawa lainnya. Jangan GR,..!

Jadi intinya, semua itu merup,….ahhh sudahlaaah,..gak usah diterusin!

Kamu jangan seperti itu ya anak ku,..

# Tepok jidat,.(LAGI)#

Note : Ini catatan opini pribadi ya, saya bersedia diluruskan jika ada kekeliruan. Sukses dan bahagia selalu untuk semua,..

Kunjungi dan baca juga tulisan saya lainnya di :
http://radityariefananda.wix.com/penulisbebas

“Apapun Buatmu Nak,..”

Posted in Pengalaman Pribadi on Juli 23, 2015 by radityariefananda

Akhirnya saya mengetahui namanya, Wildan. Dan beberapa menit kedepan, sosok yang duduk dihadapan saya itu ku panggil Bang Wildan.

Disamping saya, duduk seorang sahabat bernama Boby. Saat itu, Kami bertiga sedang berbincang tentang rencana membangun wadah social engineering berbasis digital campaign sebagai ladang amal.

Sambil menikmati hidangan di sudut cafe salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Barat, obrolan mengalir.

Ditengah perbincangan ngalor ngidul, saya mengetahui bahwa Bang Wildan adalah seorang ayah bagi dua orang anak. Yang sulung, berusia sebelas tahun dan duduk di bangku Sekolah Dasar, sedangkan adiknya si-bungsu, masih belum bersekolah. Mereka adalah mutiara yang dia banggakan.

Bang Wildan melanjutkan ceritanya.

Dia dulu adalah salah satu karyawan setingkat manajer di salah satu perusahaan printing di Jakarta. Dan itu semua mendadak dia tinggalkan hanya karena protes salah satu anak nya yang menginginkan agar bisa selalu sering bersama di rumah.

Saat masih bekerja kantoran, aktifitas memang sering menyita waktu kebersamaan bersama buah hati dan isterinya. Namun kini,keputusan itu telah diambil. Demi anak-anak tercinta, dia korbankan jabatan itu.

Setelah berhenti sebagai manajer di perusahaan tadi, dia mengerjakan apa saja yang dapat menghasil kan di rumah. Intinya, berjuang kembali mengais rizki dari nol, tanpa ingin menggadaikan waktu nya pada orang lain yang dia sebut atasan. Ya,..dia ingin mengerjakan apa saja asalkan tidak mengganggu waktu nya bersama keluarga di rumah.

Berjalan nya waktu, ujian finansial mulai terasa. Isteri nya yang hanya ibu rumah tangga, belum mampu membantu mencukupi sisa tabungan untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun Tuhan tidak pernah salah memberikan kebahagiaan. Keluarga mereka nampak tidak terpengaruh dengan kondisi tersebut. Melalui anak – anak, Tuhan menitipkan kekuatanNya.

Anak-anak Bang Wildan dengan keceriaan selalu menguatkan dirinya. Seolah mereka memahami, bahwa kondisi yang mereka rasakan adalah konsekwensi dari permintaan yang mereka sampaikan kepada ayah nya. Begitu dewasanya mereka.

Saya bertanya – Tanya, bagaimana bisa Bang Wildan mengajarkan psikologi dasar anak yang notabene tidak terbendung hasrat dan keinginan nya. Nasehat seperti apa yang membuat anak – anak nya tetap ceria memahami semua ujian yang dihadapi orang tua nya. Sungguh sabar anak-anak itu.

Kekuatan semacam inilah yang memberikan respon balik dalam diri Bang Wildan, bahwa dia harus memberikan pengorbanan lebih dari pengorbanan yang dilakukan oleh buah hatinya. Ya,..apapun akan dilakukan oleh Bang Wildan demi anak-anak nya.

Suatu hari saat benar-benar tidak memiliki biaya sama sekali di tengah kota sebesar ini, Bang Wildan harus mengantar anak nya ke sekolah. Dia berjalan kaki pulang pergi dari rumahnya di bilangan warung buncit selama kurang lebih 2 jam perjalanan sekali jalan. Putranya? Ia gendong dipunggunya selama perjalanan. Kasihan, takut capek katanya.

MasyaAllah,..,

Mungkin itu Nampak biasa.
Dilakukan oleh sorang ayah demi anak nya yang akhirnya saya ketahui memiliki prestasi bagus di bidang olah raga sepak bola. Iya, anak nya pernah menjuarai beberapa turnamen. Wajar saja jika sang ayah tidak ingin membiarkan nya kecapekan berjalan kali pulang pergi ke sekolah.

Namun ketegunan saya tidak sampai disitu.

Saat berkesempatan mengunjungi rumah Bang Wildan, benar saja. Hubungan antara ayah dan anak terlihat begitu harmonis. Malah sangat harmonis. Semua seolah tidak terjadi apa-apa, padahal setelah beberapa wakyu mengenal Banng Wildan, saya tau jelas berat nya beban yang ada di pikiran Banng Wildan. Namun di depan kedua anak nya, semua itu benar-benar tidak Nampak sama sekali.

Dirumah itu, saya kembali berpikir, seperti apa teduh nya Bang Wildan saat memberikan nasehat dan pelajaran pada anak – anak nya hingga bisa menurut dan memahami sedemikian rupa pada kondisi yang terjadi pada orang tua nya.

Tiba-tiba si-bungsu datang, dan duduk manja di pangkuan Bang Wildan. Dia lapar dan ingin makan kata nya. Lembut dan manja. Saya juga ingin sekali menjadi Ayah buat anak selucu dan semanja itu.

Saya terus memperhatikan kemanjaan nya. Mensyukuri ilmu yang saya lihat nyata didepan mata tentag hubungan ayah dan anak yang diliputi kemanjaan dan harmonisasi sebagai sama-sama mahkluk tuhan. Ayah nya, terus mengajaknya berdialog.
Seolah ngin menunjukan pada dunia “ini lho anak saya,..”

Kemudian anaknya kembali mengingatkan rasa laparnya. Dan sebelum Bang Wildan bangkit dari duduknya, si-bungsu itu memegangi kedua pipi sang ayah menatapnya lembut.

Aku coba menyimak ucapan nya.

“Gakpapa kok ayah,..nisa makan pake garam lagi seperti kemarin,..ayah jangan sedih ya”

Saya langsung memalingkan pandangan mata kesebelah kiri, melintasi bahu dan menatap tembok. Entah apa yang tergantung di tembok itu saya tidak memperhatikannya.

Mata ini mulai sembab,…

“HATI-HATI DAN TETAPLAH TENANG DALAM MENANGGAPI PERISTIWA DAN ISU BERBAU SARA” Ulasan saya tentang cara pandang dalam menanggapi peristiwa pembakaran rumah ibadah di Tolikara, Papua

Posted in Ide Dan Gagasan with tags , , on Juli 18, 2015 by radityariefananda

kerusuhan tolikara

Salam damai dan bahagia selalu untuk kita semua.
Seperti kita ketahui bersama, peristiwa di Tolikara, Papua merupakan peristiwa SARA kesekian kali yang menyayat hati kita sebagai umat muslim.

Bagaimana tidak, saat saudara kita sedang melaksanakan ibadah hari raya dengan penuh suka cita dan suasan khidmat, harus ternodai oleh tindakan anarkis yang mencoreng kebebasan beragama di negeri ini. Dan berbagai pandangan serta hujatan pun mengalir deras diberbagai media online, tak terbendung bagaikan air bah yang memaksa untuk keluar dari wadahnya. Lalu kita kudu ngapain??

Berdiam diri dan acuh dengan peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar kita, rasanya bukan pilihan tepat. Karena bagaimanapun, dan siapapun yang mengalami peristiwa di Tolikora sana adalah saudara sebangsa kita. Saya sengaja tidak menggunakan istilah “saudara seiman”, meskipun saya seorang muslim. Mengapa?

Hmmmm,..rasanya istilah-istilah semacam itu justru akan memperlebar jurang pemisah antara agama yang satu dengan yang lainnya yang ada di negeri ini. Bangsa kita bukan terdiri dari satu agama saja dude! Sejak dia di dirikan. Keberagaman agama lah yang turut melahirkan negara yang kita cintai ini. Dan sejatinya, perbedaan itulah yang harusnya membuat kita kuat sebagai satu saudara setanah air. Jadi menurut saya, istilah-istilah semacam itu hanya akan menimbulkan perdebatan baru.

Lalu pelakunya??
Ya siapapun pelakunya, dengan berat hati juga saya katakan bahwa mereka merupakan saudara sebangsa kita juga. Namun memiliki pemikiran yang negative dan keji terhadap keutuhan bangsa ini. Apapun motifnya. Lalu apa kita akan ikut melakukan kekejian yang sama seperti mereka dengan melakukan sikap dalam bentuk pembalasan?

Tentu saja jangan. Hal itu bukan menyelesaikan masalah justru akan menimbulkan masalah baru yang beresiko lebih meluas. Apa memadamkan api harus dibalas dengan menyulut api yang baru?

Jika berdiam dan acuh bukan merupakan pilihan yang tepat dalam menanggapi pandangan terhadap peristiwa Tolikara tersebut, lalu apakah memberikan respon yang penuh kebencian, amarah atau bahkan memberikan opini yang berdampak lebih buruk dengan alasan solidaritas “seiman” adalah pilihan yang harus dilakukan? Saya rasa itu juga bukan merupakan sikap yang bijak.

Sekali lagi saya katakan, jangan terlalu menjunjung tinggi istilah “seiman” di negara kita yang majemuk ini. Begitu juga di media sosial apapun. Karena hal itu akan sangat sensitif menjadi bahasan yang panjang dan makin membuka celah jurang pemisah antar umat satu dengan yang lainnya.

Bagaimana jika ada saudara kita yang berbeda agama dengan kita dan membaca komentar atau tanggapan kita? Sedangkan mereka tidak tau apa-apa yang dilakukan oleh pelaku peristiwa Tolikara yang keji tersebut? Apa harus menerima cacian dan hujatan yang sama dengan yang kita tujukan ke pelaku? I don’t think so,..!
Kita Indonesia, udah itu aja cukup..!

Mari kita mundur beberapa waktu ke belakang. Masih ingatkah gimana kita mengecam keras terhadap suatu kelompok garis keras yang mengatas namakan “Front Pembela ini & itu”? yang selalu mengatasnamakan “memberantas kemungkaran” di negeri ini? Merazia tempat-tempat prostitusi, club-club malam dengan cara-cara yang menurut kita anarkis, sehingga kita tergerak untuk mencerca dan menghujat mereka? Bahkan pernah kita habis-habisan mencaci tindakan mereka. PERTANYAANYA : Bukan kah mereka sama “seiman”nya seperti kita??? Kenapa harus kita hujat mereka yang jelas berniat membasmi kemungkaran di negara ini? Bukankah itu niatan yang baik dan terpuji?? Jadi kenapa??

Ya,…ternyata niatan dan pemikiran yang baik, jika dilakukan dengan cara yang TIDAK baik, maka akan menimbulkan persepsi yang tidak baik pula.

Lalu apa bedanya, jika kita menyampaikan keinginan baik agar kejadian Tolikara dapat segera diusut serta pelaku dan motifnya segera terungkap, namun niat baik kita itu disampaikan dengan cara yang tidak baik seperti cara yang dilakukan oleh Front Pembela Ini-itu tadi??? Apalagi pandangan, komentar, tanggapan kita itu disampaikan di media sosial yang notabene cepat tersebar dan dapat disaksikan oleh siapapun pembacanya? Bukan kah itu sangat berbahaya?? Bahkan, banyak sekali komentar dan tanggapan yang saya baca justru mengajak untuk berangkat ke Tolikara dan berperang (berjihad) melawan kekejian disana. Na’udzubillahi min dzalik,…

Jadi sewajarnya menurut saya, hal bijak yang perlu kita lakukan dalam menanggapi pandangan terhadap peristiwa Tolikara tersebut adalah tetap bersuara menyalurkan aspirasi, namun dengan tutur kata dan kearifan yang membangun. Karena dengan emosi, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Dengan fanatik dan menguatkan alasan solidaritas “seiman” di tengah negara yang majemuk, kita justru akan makin terliat kerdil dan sama tidak beradab nya. Percayalah, hal semacam itu (berkomentar dengan hujatan/cacian/emosi) justru akan memancing polemik baru yang akhirnya makin memperlebar jurang pemisah antar agama di negeri ini. Mengingatkan kembali, kita ini Indonesia! Dan kebetulan aja kita muslim,..!

Kemudian di sisi lain, saya meyakini bahwa pemerintah melalui RI1 dan RI2 juga tidak akan tinggal diam. Saya yakin mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui apa yang terjadi di negara yang kita cintai ini. Dan mereka pun pasti tau cara penyelesaiannya.

Masih ingat kan berapa kali Bapak Jusuf Kalla menjadi ujung tombak terdepan dalam meredam beberapa peristiwa SARA yang menelan korban di negara ini?? Atas alasan itu, saya masih meyakini jika beliau juga tidak akan tinggal diam menanggapi peristiwa yang terjadi di Tolikara. Namun hanya saja, kita tidak berada 24 jam bersama mereka, sehingga kita tidak tau dengan pasti yang ditempuh oleh pemerintah, dan akhirnya menilai seolah – olah pemerintah belum melakukan tindakan apa-apa atau ada sebagian orang yang mengatakan pemerintah kurang tanggap.

Kemudian sebagai penutup tulisan ini, saya berharap semoga tidak ada lagi pihak – pihak yang menjadikan peristiwa di Tolikara tersebut dan atau peristiwa SARA lainnya yang terjadi di negeri ini sebagai suatu postingan yang dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan finansial nya semata. Dan mengenai hal ini, saya akan membagikan ulasan terpisah yang akan saya posting setelah tulisan ini. Hari ini juga!

Akhirnya,..indonesia itu indah, dan islam itu agama yang damai. Senang bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudari sebangsa dan setanah air,…

Oleh : Raditya Riefananda
Silahkan Dishare,..!

Ucapan Saat Hari Raya ‘Idul Fitri

Posted in Ide Dan Gagasan, Pengalaman Pribadi with tags , on Juli 16, 2015 by radityariefananda

“INGAT,..!,…JANGAN KELIRU MENGUCAPKAN,…!!”

“Selamat Idul Fitri” = “Selamat Kembali Berbuka”
(Tidak Shaum Ramadhan Lagi)

“Selamat Idul Fitrah” = “Selamat Kembali Ke Fitrah”
(Kembali Ke Fitrah/Kesucian )

“Minal ‘Aidzin wal Faidzin” = “Semoga Kembali dan Menang”
(Sejarahnya, diucap saat pasukan muslim kembali dari peperangan)

Ikutilah Sunah Rasul dengan mengucapkan :

Kepada banyak orang
“Taqabbalallahu minna wa minkum”
(semoga Allah menerima amal saya dan kalian)

Kepada satu orang
“Taqabbalallahu minna wa minka”
(semoga Allah menerima amal saya dan anda)

Dan dapat pula disambung dengan :

Kepada banyak orang
“Shiyamana wa shiyamakum”
(serta shaum saya dan shaum kalian)

kepada satu orang
“Shiyamana wa shiyamaka”
(serta shaum saya dan shaum anda)

Dan jika mendapat ucapan tersebut, maka dapat menjawab dengan singkat :
“Na’am,.. Taqobbal Ya Karim”
(iya,..terimalah Wahai Yang Mulia (Allah))

— Mohon di share,..! —

“Bahkan mereka lebih tanggap pada perintah Rasulullah,…!”

Posted in Ide Dan Gagasan with tags , , , , , on Juli 16, 2015 by radityariefananda

Lihatlah bagaimana mereka mengajari renang sejak usia bayi,..!

Padahal jika kita buka kembali lembaran-lembaran sirah hadits, Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang tua yang memiliki anak tanpa memandang gender, untuk mengajarkan berkuda, memanah dan berenang. Diantara tujuannya adalah melatih jiwa-jiwa muslim memiliki tubuh yang kuat sejak usia dini.

Hal tersebut diantaranya disebutkan dalam hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.” (HR. An-Nasa’i).

Tapi mengapa harus juga renang??

Jika berkuda dan memanah, sudah sangat kentara sekali sebagai suatu teknik latihan ketahanan dan ketajaman fisik bagi tubuh manusia, lalu bagai mana dengan renang?

Lalu,..kenapa juga Rasuullah SAW memerintahkan untuk mengajari keturunan kita berenang, padahal Baginda sendiri berada di negeri yang notabene ketersediaan air nya tidak melimpah??.

Kalau kita perhatikan teks hadits di atas, Rasulullah Saw menyebutkan bahwa mengajarkan renang bukan termasuk perbuatan yang sia-sia, sebagaimana beberapa perbuatan lainnya. Hanya saja beliau tidak secara langsung memerintahkan, apalagi mencontohkan dalam bentuk perbuatan.

Renang adalah olah raga yang memerlukan air cukup banyak,padahal kondisi di Arab saat itu adalah gurun pasir yang sulit menemukan air,apalagi untuk berenang.

Lalu apa manfaat berenang sendiri bagi anak-anak? Berikut uraiannya ditinjau dari segi kesehatan.

Mengajar anak Anda untuk berenang dan mendorong ia untuk berenang secara teratur dapat memiliki manfaat yang signifikan bagi kesehatan dan keselamatannya. Terutama pada hari yang panas, berenang adalah cara untuk tetap tenang sambil mendorong tingkat yang sehat aktivitas fisik dan sosial.

Mengajari anak-anak berenang dapat mempromosikan gaya hidup aktif dan sehat sepanjang tahun. Berenang juga memberikan latihan yang lebih efektif daripada beberapa kegiatan lainnya.

1.Keselamatan
Menurut kidshealth.org, tenggelam adalah penyebab utama kedua kematian bagi anak-anak yang berusia antara usia 5 hingga 24 tahun. Dengan mengajarkan anak untuk berenang, dia tidak akan hanya menjadi perenang kuat, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga di dalam air. Pengalaman ini sangat mengurangi risiko keadaan darurat jika anak tidak sengaja jatuh di kolam renang,selokan air atau saat bermain di pantai.

2.Kesehatan Fisik
Menurut 24hourfitness.com, berenang adalah latihan kardiovaskular yang sangat baik yang mempromosikan jantung dan paru-paru kesehatan, meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas, meningkatkan stamina dan bahkan meningkatkan keseimbangan dan postur.

Selain itu, berenang adalah cara untuk mencegah obesitas saat masih anak-anak atau setelah dewasa.Berenang juga menempatkan sedikit ketegangan pada sendi dan jaringan ikat daripada bentuk-bentuk lain dari latihan.

3.Kesehatan Emosional
Seperti dilaporkan livestrong.com, mendorong anak untuk berenang juga dapat meningkatkan kesehatan mental dan emosional. Dengan melakukan renang secara teratur anak akan dapat mengontrol emosinya, mengingat selama dalam aktivitas berenang harus dilakukan dengan kondisi santai.

Renang kurang baik jika dilakukan dalam kondisi marah atau emosi tinggi. Daya apung alami air lebih ringan daripada jenis lain dari latihan.

Selain itu dari beberapa riset juga menemukan bahwa orang cenderung untuk berolahraga dalam waktu yang cukup lama saat berenang.

Berenang juga dapat meningkatkan mood secara keseluruhan baik fisik maupun psikisnya serta akan membantu memerangi depresi. Manfaat lain dari berenang khususnya saat masih belajar akan mendekatkjan anak-anak dengan orangtua, karena saat belajar anak akan lebih besar bergantung pada orangtua,seperti perasaan takut tenggelam dan sebagainya.

Namun yang harus diperhatikan adalah saat belajar renang ditempat umum aurat harus tetap dijaga dan tidak boleh terlihat yang bukan mahkram kita. Jadi masih ragu dengan sunnah Nabi yang satu ini? Selamat mencoba.

Silahkan dishare agar bermanfaat, thanks,..

Diolah dari berbagai sumber

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: