Arsip untuk April, 2010

Masih Teringat…

Posted in Pengalaman Pribadi on April 30, 2010 by radityariefananda

Masih teringat rasanya lelah seluruh badan ini. Setelah beberapa saat yang lalu meninggalkan suatu tempat yang sangat terpencil. Bahkan aku yakin gak akan nampak jelas jika dilakukan pencarian melalui google.maps sekalipun.yah..tempat  yang sangat jauh namun indah dengan pemandangan yang rindang. Kawasan arang penghuni namun menjanjikan kedamaian. Sejuk dan menyejukkan.

Masih teringat terakhir kalinya alu melakukan perjalanan keluarga. Namun  perjalanan kali ini sedikit berbeda, yaitu kulalui bersama seluruh keluarga ku. Lengkap. sampai keturunan ke-dua. Iya, baby dari kakak-ku pun turut serta dalam trip kali ini. Mobil pun tak cukup satu. Dua buah mobil keluarga saling beriringan. lengkap tanpa ada yang tertinggal.

Masih teringat saat beberapa waktu lalu seluruh keluarga ini bertandang di rumah itu. Rumah yang sederhana namun sangat nyaman. Tertata bagaikan villa-villa yang selalu siap menyambut tamunya. Interior dan warna cat tembok yang cerah makin menunjukkan kebersihan rumah tersebut. Dan disitulah kami bermalam. Untuk satu malam.

Masih teringat saat dirimu menyambut kedatangan kami. Tersenyum namun tetap penuh keramahan. Tanpa terlihat lelah dirimu menyiapkan hidangan. Beberapa kamar pun nampak telah rapi tertata untuk persembahan istirahat kami.  Segalanya nampak sangat jelas dalam ingatanku. Namun satu saja yang tak terlihat dalam pemandangan waktu itu . Dimana orang tuamu??

Masih teringat dalam benak ku saat aku bercengkerama bersama bunda ku. Waktu itu ba’da ashar, dan sarung pun masih aku kenakan. Sebuah kebiasaan aneh ku setelah menempuh perjalanan panjang, melonggarkan kaki dengan hanya menggunakan  sarung, ya…Cuma sarung..! Hangat sore itu. Banyak wejangan yang keluar dari lisan bunda tercinta. Wejangan tentang perkawinan dah keluarga tentunya. Wasiat nikah, kewajiban suami, program untuk anak, mendidik anak, memanjakan istri, blablabla….tanpa henti bunda ku berbicara dihadapanku. Aku meyimak. Sambil sesekali duduk bersila diatas lincak –kursi bambu-  yang berada tepat didepan kaca jendela sebuah kamar terdepan dari bangunan rumah itu.

Masih teringat jelas tata letak lincak yang kami duduki. Sebuah kursi memanjang sekitar satu setengah meter, yang terangkai dari bambu hitam dan dianyam tiap sudutnya. Menimbulakn suara gemertak pelan saat yang menduduki melakukan gerakan. Bukan kursi antik dan menarik, namun cukup menimbulkan kesan natural untuk rumah yang berada di daerah pegunungan. Terlebih menarik lagi kursi itu diletakkan di teras rumah. Persis didepan kamar  yang nampak redup dari luar, namun masih jelas karena ditembusi cahaya senja. Lebih Tepat, hampir menyentuh pada dinding penyangga kaca jendela kamar itu. Kamarmu….

Masih teringat waktu bundaku terus mengoceh dengan kultumnya -bukan kuliah tujuh menit, tapi tujuh millenium-, aku malah lebih memilih memandangi sosok dalam kamarmu. Berselimut hijau kebiruan nampak lelah setelah seharian memberikan sambutan tanpa henti. Seperti anggota keluarga ku yang lain, sosok berselimut itu pun sedang menikmati heningnya cuaca daerah pegunungan  yang mulai berkabut dingin. Posisi badannya miring kesamping menghadap ke arah luar kaca jendela.kearah kami diluar. Seluruh bagian tubuhnya tertutup oleh selimut tebal hingga nampak seperti  ikan pesut atau mungkin putri duyung yang terdampar di tepi pantai.  Hanya bagian kepala nya yang nampak dan tidak tertutup oleh selimut. Sosok itu kamu….

Masih teringat saat bundaku masih saja terus berbicara. Karena sore itu memang hanya aku yang dapat diajak berbicara. Anggota keluargaku yang lainnya, sudah dengan mimpi masing – masing untuk memenuhi kelelahannya. Bundaku masih saja membrondongi kalimat-kalimat pusakanya. Kali ini ia bercerita tentang pengalaman hidup  saat awal perkawinannya. Telingaku menyimak, namun kedua mataku memandang kedalam bagian kamarmu. Garis mataku melesat tepat ke kedua matamu yang ternyata tak terpejam sedari awal aku duduk disitu. Saat itu dirimu ternyata ikut menyimak, dan aku tau pasti. Sesekali aku mencoba membuat kesempatan saat bundaku lengah, hanya sekedar untuk  mencuri perhatianmu dengan mengerlingkan mata kiriku. Dari dalam kamar engkaupun membalas kerlingan itu.Aku  tersenyum, dirimu pun membalas senyumku. Sambil beberapa kali menyilangkan telunjuk didepan kedua bibirmu dan dilanjut dengan menunjuk – nunjuk ke arah bundaku untuk mengisyaratkan jangan bersuara,karena bundaku sedang menasehatiku. “SSssttt….ojo berisik, mengko konangan ibu mu, dipacul aku…!!”, tebak ku terhadap isyarat mu waktu itu.

Masih teringat waktu akan bergulir menjelang maghrib. Saat itu gemersak suara toa speaker masjid sangat jelas terdengar. Seperti baru dinyalakan oleh muazin nya. Mendenging menimbulkan efek feedback yang nyaring. Sauara muazin sedang mencoba memastikan speaker telah menyala.”test…test..”. lalu aku pamit bangkit meninggalkan bundaku yang nampak sudah kelelahan bercerita sore itu. Kamar mandi aku tuju untuk segera berwudlu.  Saat basuhan terakhir pada kakiku, teringat untuk membangunkan mu dalam kamar  tadi. Segera kutuntaskan wudlu dan menuju ke pintu kamar. Tidak terkunci. Tapi aku merasa tidak pantas memasuki kamar itu, dan apa jadinya jika dirimu tersentak kaget saat aku mendekat membangunkan tidurmu,aku membatin.  Lalu aku menuju jendela depan kamar di teras tadi. Owh..ternyata bunda  sudah beranjak masuk.  Dari celah cempit di sisi tepi jendela kucoba tempelkan bibirku pada kusen hitam kecoklatan. “hun…bangun..sudah maghrib..”, panggilku lirih saat itu. Sampai dua kali aku harus mengulangi kalimat tersebut hingga dirimu terbangun. “jama’ah bareng ya,..”, ucapku saat melihat dirimu sudah mulai sadar dari tidurmu. Engkau mengangguk…

Masih teringat dimana aku berdiri menantimu keluar dari kamar mandi setelah berwudlu. Parasmu nampak berseri dengan sebagian helai rambut yang menutupi keningmu. Hamparan sajadah mulai kau gelar tepat disamping kanan belakangku. Di dalam kamarmu itu,aku terus memperhatikan. “setelah azdan masjid…kamu yang iqomah ya hun…”, pintaku. Dirimu mengangguk pasti. Meski dengan sedikit heran dan tidak yakin.

Masih teringat saat mukena sudah lengkap kau kenakan. Kedua  tanganmu terangkat untuk mengikat tali dibagian belakang kepala pada mukenamu. Tepat saat kulihat tarikan terakhir oleh kedua tanganmu, azdan berkumandang. “Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar….!!”

Disaat bersamaan itu pula terdengar suara azdan yang lain…!!  Adzan yang lebih jelas dan nyata. Terdengar sangat dekat dan jelas. Sangat jelas..!!. Bagaikan guntur menggelegar mengiringi senja yang berlalu…! Memekakan telinga dan menggetarkan jantungku. Mengagetkan jiwaku. Membuyarkan semua ingatanku. Dan mengakhiri semua hamparan mimpi indah tidur soreku yang baru saja terwujud.

“Asytagfirullah….aku baru saja bermimpi…..”.

Masih belum tersadar penuh dari tidurku, kucoba untuk menurunkan kaki dari kasur untuk bergegas menuju kamar mandi. Tapi mendadak tubuh ini berhenti sejenak. Seluruh badan terasa sangat lelah seperti baru menempuh perjalanan sangat jauh. “Owh..Ya Allah…mimpi yang sangat nyata, sampai benar – benar  terasa lelah seluruh tubuh ini”…

Suara azdan disamping rumah sudah hampir berakhir dengan kalimat terakhirnya. Kupaksakan kaki ini untuk menuruni tempat tidurku. Kurasakan ujung kaki kanan mulai menyentuh dingin nya ubin kamar. Perlahan tapi akhirnya seluruh telapak kaki kanan ku mulai menyentuh permukaan ubin itu. “Aooouuwwww….! Shiit..!!” sesuatu yang menyakitkan menusuk telapak kaki ku. “Ya Allah..!! opo tho iki..??!”.  Sebuah duri dari tangkai tanaman rose telah diutus Allah untuk berada di bawah kasur, dan ditugasi untuk menyadarkan bahwa yang baru saja aku lalui hanya sekedar mimpi…

Melongo…senyum….

Sang Waktu…

Posted in Uncategorized on April 27, 2010 by radityariefananda

Disaat penyesalan sudah tiada arti

Kala kejujuran dikatakan terlambat

Hati diliputi kebencian yang dalam

Segala pengorbanan ini pun

Dianggap rayuan dan tipuan

Jika raga ini melemah dan mulai rapuh

Saat itulah kuajukan permohonan

Kepada Sang Waktu….

My Virtual Drum…Sorot Pake Mouse loe buat nyobain..!

Posted in Ide Dan Gagasan on April 25, 2010 by radityariefananda

Tentang Cinta….

Posted in Ide Dan Gagasan on April 24, 2010 by radityariefananda

Bercinta memang mudah. Untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar diperoleh.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari telinga. Jadi jika kamu mahu berhenti menyukai seseorang, cukup dengan menutup telinga. Tapi apabila kamu Coba menutup matamu dari orang yang kamu cintai, cinta itu berubah menjadi titisan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu yang cukup lama.

Kata-kata cinta yang lahir hanya sekadar di bibir dan bukannya di hati mampu melumatkan seluruh jiwa raga, manakala kata-kata cinta yang lahir dari hati yang ikhlas mampu untuk mengubati segala luka di hati orang yang mendengarnya.

Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan, manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata : aku turut bahagia untukmu.

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan sentiasa mendoakannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia , lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya . Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu. Hanya untuk menemukan bahawa pada akhirnya menjadi tidak bererti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kamu tahu bahwa kamu sangat merindukan seseorang, ketika kamu memikirkannya hatimu hancur berkeping. Dan hanya dengan mendengar kata “Hai” darinya, dapat menyatukan kembali kepingan hati tersebut.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehinggalah kamu kehilangannya. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta!

Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bukan laut namanya jika airnya tidak berombak. Bukan cinta namanya jika perasaan tidak pernah terluka. Bukan kekasih namanya jika hatinya tidak pernah merindu dan cemburu.

Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan

sumber :

http://rizkythea.blogspot.com/2010/04/kata-kata-bijak-tentang-cinta-kata.html

Software Hipnotis

Posted in Ide Dan Gagasan on April 17, 2010 by radityariefananda

BAGI YANG BERMINAT MENGHIPNOTIS DIRI SENDIRI ATAU ORANG LAIN DARI JARAK JAUH

Software Hipnotis ini sangat ampuh digunakan untuk mempengaruhi/menghipnotis seseorang dari jarak jauh.Software ini juga bisa digunakan untuk menghipnotis diri sendiri (self hypnosis). Semua ini dilakukan tanpa perlu repot melakukan ritual sugesti setiap hari. Anda cukup sekali saja melakukan sugesti yang akan disimpan pada program di komputer dan sugesti tersebut bisa anda jalankan kapan saja tanpa mengganggu aktifitas anda yang lain.

Software ini bekerja dengan cara menggabungkan kekuatan pikiran manusia/sugesti dengan gelombang radio metafisik (radionic) yang dipancarkan melalui komputer karena pada dasarnya setiap benda itu memiliki pancaran gelombang/energi. Jadi anda cukup menginstall software ini di komputer lalu merekam sugestinya, maka biarkan komputer yang akan bekerja. Sangat mudah namun ampuh hasilnya karena telah digunakan ribuan orang dan praktisi suprnatural di dalam dan luar negeri.

Manfaat :
* Untuk pengasihan baik secara umum maupun khusus. Mampu membuat seseorang jatuh cinta kepada anda dan juga untuk menjaga keharmonisan suami istri dalam rumah tangga.
* Agar diterima bekerja di perusahaan dengan jalan mempengaruhi orang yang mewawancara anda.
* Mempengaruhi atasan/bos anda agar dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi atau naik gaji.
* Mempengaruhi anak anda agar rajin belajar dan tidak nakal. Membantu penyembuhan ketergantungan narkoba   yang terjadi anak anda.
* Membantu penyembuhan sifat-sifat buruk pada seseorang.
* Mampu hipnotis diri sendiri untuk melangsingkan badan, stop rokok/narkoba.
* Meningkatkan daya tarik seks pada diri anda sehingga digandrungi lawan jenis. Juga bisa untuk meningkatkan kejantanan/kekuatan seks.
* Meningkatkan motivasi diri, semangat dan percaya diri.
* Meningkatkan kecerdasan, konsentrasi dan daya ingat.
* Membangkitkan kemampuan supranatural seperti indera ke 6, terawangan dll.
* Meningkatkan kinerja bisnis. Sangat cocok untuk para pemilik perusaahan dan sales.
* Untuk penagihan hutang agar mudah atau mempermudah meminjam uang ke seseorang.
* Perlindungan dari serangan fisik/metafisik
* Dan lain-lain manfaat sesuai keinginan anda.

Contoh Penggunaan :


1. Untuk Pengasihan : Misal anda bernama Arman ingin agar Susi mencintai anda maka :

- Masukan foto Susi di folder “photographies”
- Masukan kata-kata sugesti seperti dibawah ini sebagai teks dan audio di folder “sounds”

kata-kata tidak harus sama. Anda bisa modifikasi atau mengarang sendiri :

Aku sangat mencintai Arman
Aku selalu merindukan Arman
Aku menginginkannya sepenuh hati

- Set RGB 1 : Red: 0 Green: 160 Blue: 0
- Set RGB 2 : Red: 0 Green: 255: Blue: 0
- Set Frequency ke 8
- Aktifkan Extreme amplification
- Gunakan simbol Venus
- Gunakan elemen Water.

Catatan : untuk membuat wanita tidak jatuh cinta namun hanya bergairah seks kepada anda, gunakan
RGB 1 : Red : 60 Green : 0 Blue : 0 dan
RGB 2 : Red : 255 Green : 0 Blue : 0

2. Meningkatkan Rejeki (Hipnotis diri sendiri)

- Masukan foto anda
- Masukan kata-kata sugesti seperti dibawah ini sebagai teks dan audio suara :

Bisnis saya maju pesat
Uang saya berlimpah ruah
Kekayaan saya tiada habisnya

- Set RGB 1: Red: 255 Green: 128 Blue: 0
- Set RGB 2: Red 255 Green : 255 : Blue: 0
- Aktifkan pre hypnosis dan Extreme Amplification
- Set Frequency set ke 4
- Aktifkan elemen Air
- Gunakan simbol Merkurius

3. Mempengaruhi Atasan/Bos : misal anda bernama Arman ingin mempengaruhi bos agar naik gaji/jabatandan selalu menghormati anda.

- Masukan foto bos anda
- Masukan kata-kata sugesti seperti dibawah ini sebagai teks dan audio suara :

Arman pegawai yang baik
Saya menghormati Arman
Saya menaikan jabatan Arman
Saya menaikan gaji Arman

- Set RGB 1: Red: 0 Green: 0 Blue: 255
- Set RGB 2: Red 0 Green : 255 : Blue: 255
- Aktifkan pre hypnosis dan Extreme Amplification
- Set Frequency set ke 4
- Aktifkan elemen Water
- Gunakan simbol Jupiter atau Fehu (ambil gambarnya di folder �€œXtrasSET OF MIXED SIGILS AND SYMBOLSRunas�€ï¿½)

Catatan :

Tehnik diatas juga bisa digunakan untuk mempengaruhi orang yang mewawancari anda agar bisa diterima bekerja. Cukup dirubah kata sugestinya saja

DOWNLOAD SOFTWARENYA DISINI :

http://www.mediafire.com/?cmwtnwj2qvt

Selamat Mencoba..!!

Hasil & Pengaruh Hipnotis Jadi Tanggung Jawab Masing2…hihihi….


Cinta Lelaki Biasa…

Posted in Cerita on April 12, 2010 by radityariefananda

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon 15 watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’.
Nania cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***
Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.


Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak
percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!


Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? Dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu
itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan.

Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, Nania, bangun, Cinta?

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau  badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.


Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Bos Atau Pemimpin

Posted in Ide Dan Gagasan on April 9, 2010 by radityariefananda

Boss… NO! Pemimpin… YES!

Betapa sering orang gagal untuk menjadi pemimpin karena mereka tidak
berlaku sebagai pemimpin melainkan berlaku sebagais boss. H. Gordon
Selfridge adalah pendiri salah satu department store (pusat
perbelanjaan) di London yang merupakan salah satu department store
terbesar di dunia. Ia mencapai kesuksesan tersebut dengan menjadi
seorang ‘pemimpin’ dan bukan dengan menjadi ‘Boss’. Apakah perbedaan
antara pemimpin dengan boss? Di bawah ini adalah perbandingan yang
diberikan oleh Gordon Selfridge antara orang yang bertipe pemimpin dan
orang yang bertipe boss.

Seorang boss mempekerjakan bawahannya;
Tetapi seorang pemimpin mengilhami mereka,

Seorang boss mengandalkan kekuasaannya;
Tetapi seorang pemimpin mengandalkan kemauan baik.

Seorang boss menimbulkan ketakutan;
Tetapi seorang pemimpin memancarkan kasih.

Seorang boss mengatakan ‘aku’;
Tetapi seorang pemimpin mengatakan ‘kita’.

Seorang boss menunjukkan siapa yang bersalah;
Tetapi seorang pemimpin menunjukkan apa yang salah.

Seorang boss tahu bagaimana sesuatu dikerjakan’
Tetapi seorang pemimpin tahu bagaimana mengerjakannya.

Seorang boss menuntut rasa hormat;
Tetapi seorang pemimpin membangkitkan rasa hormat;

Seorang boss berkata, ‘Pergi!’;
Tetapi seorang pemimpin berkata, ‘Mari kita pergi!’

Maka jadilah seorang pemimpin, dan bukan seorang boss.

(Dikutip dari : 1Tan, Paul Lee, Encyclopedia of 7,700 Illustrations,
Garland, Texas : Bible Communications, Inc. 1996)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.