“Lho,..Boss, anda dibayar oleh perusahaan untuk menyelesaikan tugas perusahaan. Bukan hal diluar itu!!”

Posted in Pengalaman Pribadi on Maret 11, 2014 by radityariefananda

“Saya bekerja dengan pekerjaan. Bukan untuk hal – hal gak penting,..!”

PART-1

Seharusnya sebagai pekerja, sudah sangat wajar jika kita hanya berpijak diatas jalur kewajiban saja. kewajiban apa? ya kewajiban menyelesaikan tugas – tugas yang diberikan oleh perusahaan tempat kita bekerja. Sedangkan jalur hak, alam pasti adil menyelesaikan dan mengaturnya. Enggak terasa sekarang, pasti suatu saat.

Jika hak saja kita mampu untuk hampir idak memikirkannya, niscaya hal lain diluar hak itu pun gak akan terbawa-bawa “mengotori” kewajiban kita sebagai pekerja.

Mari berbicara tentang kewajiban.
Sebagai sesama pekerja, baik atasan ataupun bawahan memiliki fungsi dan tugas masing – masing yang pada dasarnya saling terhubung. Dan “Kewajiban” lah yang menghubungkan dintara kedua nya. Staff atau bawahan yang baik, mengerti akan kewajibannya. Begitu juga dengan pimpinan atau atasan yang leader minded, pasti akan tau sekali apa-apa yang menjadi kewajibannya pula. Dan semua kewajiban itu, tentunya kewajiban beraroma tugas pekerjaan.

Apa itu kewajiban beraroma pekerjaan?. ya kewajiban yang hanya membicarakan dan berhubungan dengan pekerjaan saja. hal di luar pekerjaan, tidak perlu dijadikan kewajiban yang seolah harus diselesaikan juga. Mungkin konsep ini yang akan mengarahkan seorang pekerja ke arah lingkungan profesional.

Lalu bagaimana jika ada seorang pekerja yang juga “merasa” memiliki kewajiban menyelesaikan tugas – tugas diluar kewajiban beraroma pekerjaan?
Nah itu dia,…akhir – akhir ini seringkali kita menjumpai seorang pekerja yang merasa “berkewajiban” menyelesaikan hal – hal yang diluar kewajiban pekerjaannya, atau bahkan lebih parahnya merasa bahwa hal itu merupakan kewajiban yang menjadi tugasnya pula. ironis!

#.B.E.R.S.A.M.B.U.N.G.#

Makhluk Pertama Ciptaan Tuhan Adalah PENA,..Bukan Adam,.!!

Posted in Uncategorized on Maret 3, 2014 by radityariefananda

“Apa yang akan kita baca, jika tidak ada sesuatu yang tertulis oleh kalam?! Maka, MENULISLAH,..!”

Nun, demi pena dan apa yang dituliskannya.(al-Qalam:1-2)

Aku yang berdiri dengan mata terbuka lebar menatap zaman di mana ummat berserakan tak memiliki nur sebagai penerang jalannya. Kucoba berdiri lagi tapi dengn mata tertutup adalah bagai menggorok leher-leher ummat lalu berlari bersembunyi di kaki-kaki gunung. Bersemedi, bagai sufi sekarat. Kuharap kita sama-sama berdiri di belakang ummat menggenggam tangannnya walaupun kita harus menyerahkan hayat kita untuk membela mereka dari cengkraman elang durjana pemangsa hati dan jiwa-jiwa mereka. Berdiri sebagai tameng kemelaratan dan penindasan, sebagai selimut dari kedinginan ummat yang tengah menggigil karena demam di potongan-potongan sejaranya.

Oh, takdir ummat ini digenggam oleh sentuhan pena-penamu. Seberapa kuatkah ia menorehkan khutbah-khutbah menjadi tongkat penyelamat bagi mereka, seberapa tajamkah asahan dari pedang penamu untuk digunakan tangan-tangan ummat ini membabat habis musuh-musuh dan kejahilian bagi dirinya, dan seberapa besarkah ruhmu mengalirkan sungai madu pelepas dahaga bagi ummat yang tengah kehausan ilmu? Takdir ummat ini dikawal oleh pena-pena. Dengarlah seruan Tuhanmu terhadap pena: Wahi pena tulislah! .Oh, Tuhanku, apa yang mesti kutulis? tulislah takdir segala sesuatu hingga datangnya kiamat…(Al-Hadits)

Adakah kita lebih senang berkhutbah di mimbar-mimbar walau teriakannya parau dan hanya menjadi nyanyian kebisuan ummat, biasaya setelah teriakan itu akan dilupakan lagi. Seperti lolongan anjing di senyap malam seolah sebagai pemanggil maut tapi setelah tenggelam lagi dalam dengkuran di balik selimut. Padahal, Tuhan ciptakan satu mulut untuk dua telinga, berarti sedikit bicara lebih banyak mendengarkan. Tuhan ciptakan satu mulut, dua telinga tapi sepuluh jemari tanganmu tuk menulis.

Menulislah wahai anak-anak zaman. Demi pena dan apa yang dia tuliskan(al-Qalam:1-2). Sementara mufassirin berpendapat, jika Tuhan bersumpah dengan sesuatu maka itu berarti akan ada suatu hal yang penting yang akan disampaikan dan yang disumpahkan itu adalah sesuatu yang sangat mulia. Ya, sesuatu yang disumpahkan oleh Allah itu sangatlah mulia, maka pena itu adalah mulia, yang menggerakkan penapun adalah mulia, dan penulis-penulis di setiap perempatan zaman mempertajam penanya adalah mereka yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi hamba-hamba yang mulia.

Menulislah! Sebab agama ini lestari dari hitamnya tinta para ulama’ dan merahnya darah para syuhada. Menulislah! sebab takdir Tuhan dituliskan oleh pena yang diciptakan-Nya. Dan menulislah karena kita memang harus menulis! Pena adalah makluk pertama yang dicipta Tuhan untuk menoreh semua takdir di semestanya, lalu Adam diajarkan ilmu bahasa sebagai modal awal menjadi khalifah, dan wahyu awal yang turun kepada baginda Rasul adalah perintah membaca. Perhatikan itu!

“Tangan hidup dan t’rus menulis, menulis lagi. Iman dan akalmu tak mungkin akan membuatnya berhenti walau setengah barispun. Tak jua tangismu satu kata kau tersisih

PENA DAN KERTAS

Senyum Mungil Di Tepi Kapuas

Posted in Pengalaman Pribadi on Maret 3, 2014 by radityariefananda

Perjalanan hidup saya kali ini ditakdirkan untuk bertugas disalah satu kota yang berada di wilayah Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak. Kota yang sering disebut dengan julukan “Bumi Khatulistiwa” dan dahulu terkenal akan buah jeruknya itu telah memberikan torehan cerita dalam sebagian lembaran kisah hidup yang saya jalani. Pontianak juga merupakan kota kedua bagi saya semenjak bekerja sebagai seorang marketer disalah satu perusahaan farmasi terkemuka di negeri ini.

“What a beautiful life,..”. Masih teringat saat pertama kali batin ini mengatakan hal itu, ketika mengetahui bahwa perusahaan tempat saya bekerja, sangat terbuka peluang bagi beberapa divisi nya (diperusahaan kami sering disebut pilar) untuk memperoleh kebijakan rotasi atau mutasi ke wilayah baru. Itu artinya, seseorang yang mendapatkan amanah berupa kebijakan tersebut layaknya sedang diberikan tantangan oleh perusahaan untuk menguji kemampuannya guna pengembangan di wilayah baru. Atau, bisa juga dikatakan bahwa kebijakan tersebut merupakan apresiasi yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan yang dianggap mampu, dan dengan kemampuan yang dimiliki oleh karyawan tersebut diharapkan dapat diterapkan pula di wilayah lain, sehingga terjadi percepatan dan peningkatan potensi di wilayah barunya tersebut. Namun, terlepas dari pemahaman yang kurang akan hal itu, saya melihat dari sisi kacamata pribadi bahwa sesungguhnya wilayah baru sejatinya adalah tantangan dan kreatifitas baru, hingga pada akhirnya akan memberikan dongeng tentang pengalaman baru. Dan saya berani menikmati anugerah itu.

Kembali ke Pontianak,…
Sebagai Ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, meski terbilang lambat namun Pontianak terus mempercantik riasan wajahnya. Satu tahun lebih berada di kota itu, saya menyaksikan beberapa perkembangan (baca : perbaikan-perbaikan) dibeberapa bagian sisi kota terutama yang berkaitan dengan sarana umum seperti penataan pasar tradisional, pembangunan sarana kesehatan, peningkatan insfrastruktur dibeberapa titik jalan, serta penambahan fasilitas di lokasi ruang publik yang sering dijadikan sebagai tempat rekreasi keluarga seperti Taman Kapuas. Ada secuil cerita dari lokasi terakhir yang baru saja saya sebutkan,…

Saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Dan posisi urutan itu seringkali saya syukuri sebagai suatu anugerah. Alasannya sederhana. Dengan menjadi anak kedua dari tiga bersaudara, saya dapat merasakan kasih sayang dan perhatian sebagai adik dari seorang kakak yang merupakan anak pertama meski beda usia kami hanya terpaut satu tahun. Selain itu, dengan menjadi anak kedua dari tiga bersaudara artinya saya juga diberikan peran sebagai seorang kakak bagi satu – satunya adik yang saya miliki. Dan tentunya, peran kedua itu terkadang saya manfaatkan untuk sok – sok galak gimana gitu terhadap adik saya. Galak penuh sayang. Lets make it simple, intinya kakak saya tidak akan pernah berperan sebagai seorang adik, dan adik saya pun tidak akan pernah berperan sebagai seorang kakak. Terhadap saudara kandungnya.

Diantara kedua saudara kandung, saya merupakan satu – satu nya yang gemar mengunjungi tempat keramaian publik. Bagi saya, tidak harus tempat yang mahal atau bahkan sampai mengeluarkan biaya menjadi tolok ukur nya, melainkan suatu area yang cukup cozy untuk dijadikan sekedar tempat “ngopi” disore hari, sambil mengamati lalu lalang kerumunan orang yang penuh keceriaan. Di tempat seperti itu, saya bisa berlama – lama menghabiskan secangkir kopi. Apalagi jika mayoritas penjual dagangannya dari kalangan ABG yang terkadang bersedia memberikan pelayanan ekstra plus – plus seperti sentuhan lembut jemarinya dalam mengaduk air kopi, pemberian gift senyuman yang ramah, atau bahkan pertunjukan aksinya melalui kelihaian dalam menelanjangi sebatang sosis dari erat kemasan yang membungkusnya, untuk kemudian menjadi sajian pendamping kopi yang saya pesan. Atau terkadang juga, jika kita beruntung dan mampu “menaklukan” para ABG penjaja kopi tersebut, maka diluar kesibukannya menyajikan hidangan bagi pengunjung yang lain, mereka akan sangat bersedia melayani kita. Tentunya, untuk sekedar bercerita dan pada akhirnya rela untuk saling bertukar kisah pengalaman hidup yang pernah mereka jalani. Dan sore itu saya berada dikawasan tersebut,..Taman Kapuas.

Hampir pukul lima sore saat saya menyandarkan sepeda motor diarea parkiran Taman Kapuas. Dan sore itu, parkiran nampak sangat ramai sekali oleh pengunjung yang memadati lokasi tersebut. “Mungkin karena beberapa sore hari kemarin Pontianak sempat diguyur hujan”, batinku coba menjawab pertanyaan sendiri tentang padatnya kendaraan roda dua yang terparkir. Bahkan hingga menghabiskan hampir separuh badan jalan yang sesungguhnya diperuntuk-kan bagi kendaraan yang melintas. Ironis memang, namun itulah Pontianak. Dan pemandangan seperti itu hampir terjadi setiap sore jika kawasan Taman Kapuas tidak diguyur hujan.

Suatu hari pada kunjungan sebelumnya, saya pernah mencoba untuk menghitung cepat jumlah kendaraan yang terparkir pada pukul 16.30 wib, dan hasil cukup “wow”. Ada sekitar lebih dari lima ratus unit kendaraan yang sudah terparkir, dan tentu saja jumlahnya akan terus bertambah menjelang senja dan malam tiba. Apalagi kawasan Taman Kapuas itu memang sengaja dijadikan sebagai salah satu pusat keramaian dan wisata yang murah meriah bagi seluruh warga Pontianak. Sehingga setiap sore harinya jika cuaca mendukung, kawasan itu akan menjadi salah satu tujuan favorit untuk mencari udara segar bagi kalangan tertentu yang akan cukup menghibur.

Perlahan saya mulai memasuki Taman Kapuas itu dengan melewati beberapa anak tangga. Nampak pelataran terdepan semacam hall berubin yang diramaikan oleh beberapa pengasong mainan anak – anak. Ada berbagai macam balon gas helium dan mainan bernada yang mereka tawarkan. Ada pula permainan “kithiran” yang semasa kecil sempat saya sukai, yaitu semacam baling-baling kecil terbuat dari serat bambu dan cara memainkannya dengan dihempaskan vertikal ke udara menggunakan karet pelontar, kemudian mainan tersebut akan terjun secara bebas perlahan dengan kondisi berputar. Saat ini, permainan baling – baling bambu tersebut sudah sedikit mengalami kemajuan, yaitu dengan diberikan satu buah lampu LED kecil yang memiliki warna tertentu, sehingga jika dilambungkan saat malam hari, ujungnya akan nampak mengeluarkan cahaya. Meskipun demikian, menurut saya tambahan sedikit kreasi tersebut masih saja terlalu konvensional untuk menyaingi “baling-baling bambu”-nya milik Doraemon.

Di sisi luar sebelah kiri dari pelataran tersebut, terlihat berderet sekitar tiga puluh warung tenda dengan beraneka rupa masakan yang dijual. Dari sekedar jajanan ringan hingga santapan pembungkam dendangan irama keroncong perut bagi para pengunjung yang mulai berkumandang. Yup,..saya dapat menyaksikan beberapa pedagang tempura, bubur kacang hijau hingga sate dan gado-gado sedang sibuk dengan cekatan memenuhi permintaan para tamu nya.

Masih di deretan penjual makanan namun disudut paling ujung, nampak para freelance jasa pijat. Mereka memberikan pelayanan pijat capek, kerokan dan urut diatas alas tikar yang mereka gelar. Antara pemijat satu dengan yang lainnya berdampingan tanpa ada sekat pemisah maupin tirai yang menutupi. Terlulis di papan – papan kecil disamping mereka : “PIJAT CAPEK RP.30.000,-”. Rate yang cukup murah jika dibandingkan dengan profesionalitas yang mereka tunjukan. “Jika berkesempatan, suatu hari saya akan meng-create para pemijat tersebut,..”, gumam ku sambil mengalihkan pandangan.

Masih dari pelataran depan Taman Kapuas, di sisi yang berseberangan dari para penjual makanan dan pemijat tadi, nampak sebuah taman yang bisa dibilang cukup baru. Lekat dalam ingatan saat pertama kali tiba di Kota Pontianak, taman tersebut masih merupakan lahan kosong bersemak dan sedikit banjir. Dan untuk menutupi pemandangan itu, disekelilingnya dipagari seng sehingga tidak nampak oleh mata yang melintas. Namun kini, pagar penutup tersebut telah dibuka, seiring dengan selesainya pembangunan taman yang ikut andil mempercantik Taman Kapuas, dengan pelataran batu granit bermotif nan rapi.

Saya sedikit mencondongkan badan, ketika mencoba untuk melemparkan pandangan jauh ke arah tengah taman tersebut. Saya dapati sebuah kolam dengan beberapa air mancur di di dalamnya. Dibagian tengah kolam, nampak menjulang air mancur utama yang menyemburkan aliran relatif deras ke angkasa. Hawa sejuk butiran molekul airnya nampak terbawa angin yang berhembus, dan melembabkan sebagian granit di sisi kolam. Di tepian kolam yang berbentuk lingkaran itu, terlihat beberapa air mancur yang ukurannya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan air mancur utama tadi. Namun meskipun ukurannya lebih kecil, tapi dari satu titik air mancur tersebut tersembur beberapa sumber air lainnya. Saya gambarkan seperti sebuah payung mengembang yang kita balik, kemudian dari tiap ujung jeruji payung tersebut mengeluarkan semburan air yang lebih kecil. Dan yang lebih menarik lagi, jika payung terbalik itu kita rotasi pada satu titik poros. Sehingga semburan air dari dari masing – masing ujung jeruji payung tersebut akan membentuk pola seperti pusaran tornado yang sedang berputar dengan tempo tertentu. Cukup lama saya mengamati pemandangan tersebut. Begitu juga dengan para pengunjung di sekitar taman dimana rata – rata adalah pasangan yang membawa anak – anak kecil. Putra – putri mereka bermain kesana – kemari, orang tua nya “ndomblong” menyaksikan tarian air mancur.

Saya kembali menegak-kan posisi tubuh, dan bergegas melangkah menuju pelataran yang lain di Taman kapuas. Hanya sekitar sepuluh langkah saya sudah berada di pelataran selanjutnya. Di pelataran itu, terlihat lebih ramai dari pelataran sebelumnya. Nampak banyak sekali pedagang pernak pernik dan cinderamata serta pakaian dan perlengkapannya. Saya menyebutnya dagangan pasar malam. Di beberapa tepian selasar, saya jumpai para pembuat tattoos sedang berkonsentrasi dengan aneka kreasi motif di beberapa bagian tubuh para penggemar seni itu. Mereka semua duduk lesehan beralas terpal. Dan menariknya, seluruh pengunjung yang mengikhlaskan bagian tubuh untuk di tattoos rupanya justru dari kalangan hawa, meskipun tidak semua dari mereka berani melekatkan jenis permanent tattoos.

Saya terhenti sejenak untuk nongkrong mendekatkan diri di kerumunan pecinta tattoos tersebut. Sekedar melihat dengan jelas teknik pembuatannya. Baik yang permanent tattoos maupun yang temporary tattoos. “Oooh,..gitu tho,.”, modusku lirih. Lalu saya alihkan perhatian ke beberapa wanita yang sedang menikmati lukisan tattoos dibeberapa bagian tubuhnya. Ada yang men-tattoo bagian dalam pergelangan langannya, ada pula yang membuat tattoos di tengkuk leher belakangnya. Dan ditepi lain dari alas terpal kerumunan itu, disisi yang lebih tersembunyi dari lalu-lalang nya keramaian, nampak seorang wanita yang usianya saya perkirakan berkisar antara dua puluh tujuh hingga dua puluh sembilan tahun. Cuek duduk bersila dengan sedikit membungkuk-kan badan. Sebagian t-shirt-nya sengaja disingkap dari lingkar pinggangnya yang putih, saya duga untuk menghindari terkena tinta temporary tattoos yang sengaja ia buat sedikit di atas belahan pantat nya. Celana jeans yang ia kenakan, menambah “penampakan” sore itu seolah menjadi ramuan tombo ngantuk yang cukup mujarap. “Ooooh God,..so colored here”, hembusku sambil berdiri.
Kemudian saya kembali berjalan menelusuri selasar dipelataran tersebut. Meninggalkan kerumunan tattoos tadi.

Ternyata, disamping kerumunan pembuat tattoos itu, terdapat beberapa bandar judi yang menggelar lapak kecilnya. Ada judi tebak posisi biji semangka, ada pula judi dadu “kluthuk” menebak jumlah angka dadu yang keluar. Ternyata masih ada permainan seperti itu.

Di pelataran kedua Taman Kapuas itu, terbagi menjadi tiga area. Area pertama di bagian tengahnya adalah selasar paving block yang menjadi tempat orang berlalu lalang. Termasuk diantaranya adalah saya. Disepanjang selasar itu, selain kerumunan pembuat tattoos dan bandar judi yang saya jumpai sebelumnya, terdapat pula aneka permainan anak seperti persewaan mobil-mobilan, kereta putar serta odong – odong. Pada kesempatan kunjungan sebelumnya, saya sempat mencoba untuk mencari informasi ke beberapa pemilik wahana permainan tersebut tentang biaya yang mereka kenakan terhadap pengunjung. Sedikit upaya untuk sekedar mencari peluang sharing product melalui jasa yang mereka jual. Namun nihil.

Masih di bagian selasar dari pelataran itu, namun dibagian tepi dalam nya, terdapat enam buah tempat duduk memanjang yang terbuat dari pondasi semen permanen. Tiga deret di bagian tepi kiri selasar, dan sisanya berada berseberangan di tepian kanan selasar. Dan sore itu, seluruh tempat duduk tersebut telah terisi penuh oleh ibu – ibu yang sedang menanti anak – anak nya bermain permainan. Riuh diantara mereka terdengar saling bercengkerama sambil sesekali mengamati putra – putri nya bermain. Kembali terbesit pertanyaan dibenak saya tentang berapa jumlah pengunjung tiap sorenya yang membawa anak ke lokasi itu. “its so many,.!”. “There is opportunity..?! maybe,.!” Otak saya mulai memikirkan sesuatu. “criiing,..!”

Kemudian, bagian lain dari pelataran kedua Taman Kapuas tersebut, merupakan area taman berumput dengan beberapa pepohonan yang rindang. Letaknya persis di tepi luar kanan dan kiri selasar. Di atas rerumputan itu, keramaian didominasi oleh pasangan muda – mudi. Ada yang nampak sedang berbicang berdua dengan raut muka serius, ada juga yang berkelompok penuh canda sembari mengabadikan momen mereka melalui jeprat-jepret kamera handphone nya.

Di bawah salah satu pohon rindang yang sebagian cabangnya mengarah ke selasar, saya menyaksikan sepasang pria dan wanita cukup usia, sedang saling duduk berhadapan. Saya tertarik untuk mengamati. Beberapa kali setelah mengucapkan sesuatu kepada wanita di hadapannya, sang pria itu membuang pandangannya ke arah lain sembari tersenyum kecil, dan menggaruk ringan keningnya sendiri. Lalu menatap lagi wanita di hadapannya dan kembali mengucapkan sesuatu. Begitu berulang – ulang. Sesekali, pria itu melakukan aktifitas yang berbeda saat kembali membuang pandangannya, yaitu tidak lagi menggaruk kening melainkan bagin tubuh lain tetapi masih sekitaran bagian tubuh yang berada di wilayah kepala, entah itu ujung hidungnya, telinganya, rambutnya hingga terkadang bagian bawah bibirnya. Saya berpikir, garukan itu bukan dilakukan untuk mengusir rasa gatal. Melainkan caranya untuk menutupi rasa malu dan keki karena belum juga mendapat respon dari wanita tersebut. Atau bisa juga, garukan itu dilakukan untuk menyembunyikan lukisan muka nya yang nampak sedang berpikir keras tentang bagaimana cara “mengisi toples coklat” yang baik dan benar supaya goal tepat mengenai sasaran.

Si-wanita tetap diam tak merespon. Sesekali ia hanya mengangkat kepala dan menurunkannya kembali guna membenahi posisi dagu yang ia topang diatas kedua lututnya, sembari memeluk kedua kaki yang ia lipat keatas. Tatapan matanya hanya tertuju memandangi bunga – bunga rumput kecil yang ada di ujung jemari kedua kaki nya. Toples coklatnya nampak belum terbuka. Saya pun berlalu,…

Tiba diujung selasar dari pelataran itu, saya dihadapkan lagi untuk menaiki beberapa anak tangga. Setelah berada di undakan tertinggi, tampak pemandangan yang berbeda dari pelataran – pelataran sebelumnya. Lurus sekitar tiga meter dihadapan saya, ada sebuah kolam setengah lingkaran yang tepinya dibuat beranak tangga sehingga dapat dijadikan sebagai tempat duduk layaknya deretan undakan kursi penonton disebuah stadion. Namun undakan tepi kolam itu membentuk setengah lingkaran, mengitari sebuah replika tugu khatulistiwa yang merupakan simbol kebanggaan warga Pontianak. Replika tugu tersebut berada persis ditengah kolam berair keruh. Separuh lingkaran dari tepian kolam, adalah bagian yang terhubung langsung dengan Sungai Kapuas, dimana menjadi sumber air yang mengisi kolam tersebut. Persis seperti sebuah teluk kecil. Dengan desain kolam yang seperti itu, saya dapat mengaitkan hubungan antara jumlah volume air di dalam kolam dengan pasang surutnya air yang mengalir di Sungai kapuas.

Sepertinya, posisi kolam dengan replika tugu khatulistiwa ditengahnya tersebut sengaja diposisikan lurus dengan ujung selasar tempat saya berdiri. Sehingga keberadaannya seolah membagi lajur yang berada di tepian sungai menjadi dua bagian yang sama panjang. Kedua lajur tersebut berada di sisi tepian yang sama dari Sungai kapuas. Saya maju beberapa langkah, lurus menuju tepian kolam, dan dari situ saya dapat melihat dengan jelas hingga ujung – ujung kedua lajur tepian sungai tersebut. Kini kedua lajur itu tepat berada di sebelah kiri dan kanan saya. Dan disinilah sesungguhnya endpoint dari seluruh pelataran yang ada di Taman Kapuas. Namun, masih ada sekelumit cerita tentang tepian Sungai Kapuas..

Saya lebih tertarik untuk menuju lajur sebelah kanan. Meskipun dikedua lajur itu, baik kanan dan kiri sama – sama dipenuhi dengan cafe – cafe penjual kopi. Hal tersebut dapat dilihat dari deretan kursi yang tertata rapi, baik dilajur sebelah kiri maupun disebelah kanan kolam. Ada alasan lain yang membuat saya memilih untuk menuju deretan cafe di lajur sebelah kanan.

Saya letak-kan tas ransel yang sedari tadi melekat dipunggung. Kemudian saya duduk disalah satu kursi yang letaknya di deretan persis Sungai Kapuas. Antara saya dengan sungai, hanya terhalang pagar pembatas yang terbuat dari besi melintang. Jika mau, saya dapat menuju tepian itu dan menyentuh langsung deras nya air kapuas yang mengalir. Namun, ABG penjual kopi itu lebih menarik perhatian saya dari pada harus repot – repot bermain dengan arus air Sungai Kapuas.

Rina, nama amoy itu.
Amoy adalah sebutan atau panggilan bagi ABG atau anak perempuan keturunan cina. Di Pontianak ini, ada tiga etnis suku yang semenjak dahulu membentuk bauran pupolasinya. Yaitu etnis Dayak, etnis Melayu dan terakhir etnis Cina. Dari kalangan etnis cina sendiri, menurut pengamatan saya ada sedikit perbedaan dengan etnis cina di beberapa wilayah lain. Di Kalimantan Barat, kalangan etnis cina terlihat lebih berbaur dengan etnis – etnis lainnya. Baik dari pembauran sosial maupun ekonomi. Sehingga jangan heran, jika kita menyaksikan petani, penyeduh jamu, pedagang sayuran hingga tukang parkir dan penjual kopi dari kalangan etnis tersebut. Hal itu lumrah ditemui di kalimantan Barat terutama di Pontianak. Namun demikian ada pula dari beberapa kalangan etnis cina di kalimantan Barat yang memiliki persamaan dengan etnis cina di daerah lain, dalam segi usaha. Di kalimantan Barat dan sebagian besar di Pontianak, banyak pula kalangan cina yang memiliki usaha level menengah ke atas seperti di daerah lain. Hal ini diantaranya dapat dilihat dari seluruh pareto dan PBF besar yang ada, semuanya dikuasai oleh pribumi berketurunan cina. Sepertinya, level usaha kalangan cina di Kalimantan Barat, lebih lengkap dibandingkan dengan daerah lain. Level bawah, menengah hingga atas. Lalu di level mana amoy yang sedari tadi sedang membuat kopi dan sosis yang sudah saya pesan,..?

Saya mencoba menguatkan iman untuk mengalihkan pandangan dari “singkong dikupas” yang sedari tadi berseliweran di hadapan saya. Singkong dikupas adalah istilah yang saya buat untuk menganalogikan tampilan paha hingga betis yang begitu putih milik para amoy. Saya tidak mencoba mengintip untuk mendapatkan pemandangan itu. Mereka sendiri yang dengan sengaja mengenakan hot pants (celana mini ketat) saat bertugas sebagai pramu saji. Semacam identitas bagi kalangan amoy. “Suer,..saya nggak ngintip..!”.

Meski sambil lirak – lirik, kini pandangan saya arahkan ke tepian Sungai Kapuas yang ada tepat dihadapan saya. Tidak sampai satu meter dari kursi tempat saya duduk, nampak beberapa kapal wisata yang berjajar menunggu giliran menaikkan penumpang. Ya,..itulah wahana terakhir dari seluruh wahana dan jasa yang ditawarkan di Taman Kapuas. Kapal Wisata Sungai Kapuas,.! Dan hal tersebutlah yang menjadikan alasan saya berkunjung ke Taman Kapuas sore itu.
Kapal wisata yang menawarkan jasa perjalanan dengan rute Taman Kapuas – Jembatan Kapuas PP itu mematok tarif cukup murah, hanya sepuluh ribu rupiah saja per kepala. Didalamnya, disediakan semacam mini bar untuk melayani jajanan dan makanan ringan bagi para penumpang selama berada di atas air. Dan itu cukup menarik.

Jika satu kapal telah terisi penuh sekitar 15 – 20 penumpang, maka akan segera berangkat membawa para penumpang menyisiri pemandangan sepanjang sungai dengan titik finish di Jembatan Kapuas lalu kembali lagi ke Taman Kapuas. Perjalanan pergi pulang tersebut ditempuh dengan waktu sekita tiga puluh menit. Begitu satu kapal berangkat, akan maju kapal lainnya untuk menaik-kan penumpang. Begitu seterusnya. Dari pengamatan saya, kapal tersebut selalu ramai penumpang, namun lonjakan akan sangat nampak jika tiba di akhir pekan atau menjelang hari libur. Seperti sore itu.

Ada rasa bangga dalam diri saya mengamati hilir mudik kapal – kapal wisata itu. Selain keberadaannya ikut meramaikan dan mempercantik Kawasan Taman Kapuas yang sedang menghias diri, tampilan dari seluruh kapal wisata itu kini pun mulai nampak cantik dan berseragam. Dan itu diantaranya berkat perusahaan dimana saya bekerja.
Yup,..seluruh kapal wisata yang hilir mudik meramaikan lalu lintas sungai kapuas tersebut, kini berseragam baru. seluruh bagian pagar kapalnya bertuliskan salah satu brand dari perusahaan saya. Di sebagian spacenya terdapat pula beberapa karikatur bertemakan komik nan lucu.sebelumnya, siang hari saat sedang menyelesaikan tugas kantor, para empunya kapal menginformasikan bahwa sore harinya siap untuk di dokumentasikan. Mereka sangat senang dengan dengan tampilan itu. “So,..here i’am”.

Dari tepian sungai itu saya terus mengamati kapal wisata yang bergantian mengisi penumpang. Terkadang geli melihat tingkah penumpang yang menghentikan langkahnya beberapa meter sebelum memasuki pintu di pagar kapal. Hanya untuk sekedar membaca tulisan di space branding yang terpasang “ANTIMO MINYAK KAYU PUTIH”. Eyecatching,…

Kemudian saya berdiri menuju pagar tepian sungai. Mengamati aliran sungai yang telihat deras sambil berharap semoga seragam baru bagi kapal – kapal tersebut dapat ikut mempercantik pemandangan Taman Kapuas. Dan terlebih dari itu, semoga tujuan program branding tersebut dapat tercapai. Diantara lamunan itu, saya mengeluarkan handphone untuk menghubingi beberapa nama. “akan saya interview kalian besok,..”, gumam ku melihat beberapa nama calon SPG dan SPM yang rencana nya akan saya tempatkan mobile di kawasan Taman Kapuas itu, untuk melengkapi program branding yang telah terlaksana. Dan beberapa panggilan pun terhubung,…

Senja nampak mulai menjinggakan angkasa diatas sepanjang Sungai Kapuas. Saya pun mulai melirik arloji ditangan kanan . “time go home,..”. Sebelum beranjak pulang, saya sedikit tersenyum. Teringat, ternyata sudah hampir akhir tahun lagi. “But what i have done..?” fiuuh,..

Senyum mungil kembali terbentuk di tepian sungai itu. Berharap suatu hari dapat anugerah kembali untuk menyaksikan keindahan di kota lain nya. Angkasa pun tersenyum,…dan senjapun memainkan peran nya,…..

# sudut cafe, 15.11.13. / 22.35 #

biasa disebut lancang kuning

biasa disebut lancang kuning

Ngobrol Sama Tempe Goreng – Tempe Goreng BUKAN Tempe’ Goreng

Posted in Cerita on Juli 26, 2013 by radityariefananda

Gak ada yang salah dengan judul tulisan ini. Ya,..! emang gue sering ngobrol sama tempe goreng yang gue caplok hampir tiap santap malam di Warung Soto Solo Mas Anwar di dekat tempat tinggal gue. Awalnya gue ragu untuk mencicipi masakan di warung soto tersebut, meskipun setiap hari gue melewatinya saat berangkat dan pulang kerja. Pasalnya, setiap melewatinya warung tersebut nampak sepi pengunjung, sehingga gue ragu akan citarasa hidangannya. Hingga suatu hari gue tersadar, jelas aja warung itu selalu Nampak sepi, karena saat gue melintasinya bukan waktunya buat orang ngisi perut…

Gue udah lupa kapan pertama kali mengunjungi dan menikmati hidangan di warung soto tersebut. Yang masih gue inget adalah, menu pesanan gue yaitu satu porsi soto babat pisah nasi nya, tempe goreng lima biji dan es teh. Yup,..masih jelas teringat menu perdana tersebut. Gimana gak teringat, sampe detik ini ya menu yang gue pesan itu – itu melulu. Sampe pelayan nya hapal. Bahkan pernah gue membatalkan untuk makan di warung soto tersebut jika salah satu menunya tidak lengkap. Jadi harus ada soto babat pisah, es teh dan yang terpenting adalah lima biji tempe goring. Itulah awal perkenalan gue dengan si tempe goring disitu,…so sweet,…

Singkat cerita, hampir tiap malam gue menikmati tempe goring tersebut. Dan akhirnya gue mulai mencintai nya. Orang jawa bilang witing tresno jalaran soko kulino yang kalo diartikan “tumbuh cinta karena sering bertemu”. Kehadirannya dan kemampuan berkorbannya demi gue yang membuat diri ini jatuh hati padanya. Yeaah,..gimana gak berkorban?? Tempe itu gue gigitin and gue telen tiap malem dia Cuma diem doang,..

Suatu hari terjadi lah perbincangan singkat antara gue dengan si-tempe goring :
Gue : “hai tempe goreng,..apa kabar?”
Tempe Goreng : “hai cin,..baek-baek aja,..tumben baru nongol cin?”
Gue : “iya nih,..abis lembur dikantor…”
Tempe Goreng : “btw,..gimana kerjaan hari ini, lancar?”
Gue : “biasa aja cin,..seharian gue mikirin loe”
Tempe Goreng : “ahh,..bisa aja. Gue juga tadi sambil dipotong – potong sempet mikirin loe”.
Gue : “ Gak sakit kah cin diri loe dipotong – potong?”
Tempe Goreng : “enggak sih,..dah biasa. Rasanya geli – geli enak gitu deh”
Gue : “Geli – geli enak gimana? Kaya mastrubasi aja loe ini,..”
Tempe Goreng : “Ya emang kaya mastrubasi,..digesek – gesek, bukan pake sex toys tapi pake pisau,..”
Gue : “haha,..ngaco loe,..dah ahh,,gue laper,..sini gue kunyah cin,..!”
Tempe Goreng : “iya deh,..tapi jangan bayangin gue seperti vagina ya,..gue tempe goreng, bukan tempe’ goreng seperti yang diucap pake bahasa jawa,..”
Gue : “Ngaco,..! sluubbb!”

Pantai Sinka Zoo & Pulau Simping, Singkawang Kalimantan Barat

Posted in Pengalaman Pribadi on Juli 14, 2013 by radityariefananda

Perjalanan Dinas Keluar Kota gue kali ini bertujuan ke salah satu kota di Kalimantan Barat, Kota Singkawang. Kota yang sangat dikenal dengan “Kota Amoy” (amoy : sebutan bagi gadis keturunan cina)ini ternyata memiliki objek wisata yang cukup indah bagi penikmat wisata alam di Indonesia, Pantai Sinka Zoo dan Pulau Simping.

Yup,..kawasan wisata pantai yang terletak di area kebun binatang Sinka Zoo (masih dalam pembangunan) ini memberikan pemandangan yang cukup membanggakan dibandingkan objek – objek wisata lain yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Mengingat, provinsi yang terdiri dari tiga bauran etnis yaitu Dayak, Melayu dan China ini dapat dikatakan minim sekali destinasi wisata yang dapat dikunjungi jika dibandingkan dengan provinsi – provinsi lain di Indonesia.

Ini adalah perjalanan gue untuk ketiga kalinya ke objek wisata tersebut, karena sebelumnya gue sudah sempat mengunjunginya namun hanya sebatas lalu dan tanpa berniat untuk menjadikannya sebuah tulisan di blog gue. Namun kali ini, gue kembali berkunjung karena selain menemani “Bos Pusat”, gue juga berniat untuk menuliskan keberadaan lokasi ini dan mempostingnya agar di kenal masyarakat luas. Alhasil, begitu sampai dilokasi kedua tangan langsung ceprat – cepret mengambil dokumentasi dan isi kepala seakan berbauran dengan begitu banyak alur – alur cerita yang gak sabar untuk segera dituangkan dalam bentuk tulisan.

Untuk menuju kawasan Pantai Sinka Zoo, kita harus menempuh perjalanan darat kurang lebih sekitar 2,5 jam dari Kota Pontianak menuju ke arah Kota Singkawang. Dari jalur utama antar kota, terlebih dahulu kita harus memasuki dan melewati area perkampungan dan perkebunan kelapa yang berjarak sekitar 2 KM hingga dapat mencapai lokasi wisata.

Sesampai di lokasi, kita akan disuguhi pemandangan pantai yang sarat dengan batu – batu besar yang terkadang gue sendiri heran dari mana bebatuan tersebut berasal. Mengingat, deretan lokasi pantai lain di sekitar kota Singkawang tidak didapati bebatuan seperti yang terlihat di pantai Sinka Zoo.

Dibeberapa bagian dari pantai tersebut, nampak beberapa patung – patung hewan seperti kura – kura dan elang yang sengaja dibuat diatas bebatuan besar. Menambahkan kesan indah dan seringkali menjadi sasaran backround pengambilan foto oleh para pengunjung. Termasuk gue,..hehe.

Di sisi lain, kita juga bisa menyaksikan hamparan perbukitan yang hijau, yang kemudian dari informasi yang gue dapat ternyata areal perbukitan tersebut rencananya akan dibuat sebagai kawasan kebun binatang dengan konsep hampir sama dengan Taman Safari Bogor, dimana kita dapat menyaksikan hewan – hewan langsung dihabitatnya dari dalam kendaraan yang kita tumpangi. Namun, fasilitas tersebut masih dalam tahap pembangunan. yeah,..semoga aja segera terwujud,..

Fasilitas lain yang disediakan oleh pengelola objek wisata ini adalah adanya pemandian kolam renang. Pemandangan yang jarang terjadi di lokasi-lokasi pantai lain, dimana kolam renang dibangun berdekatan dengan bibir pantai. Oleh karena itu, saat berada di objek wisata yang mematok HTM Rp.10.000,- per kepala ini, kita akan jarang menjumpai pengunjung lain yang bermain air atau bermandi ria dipantainya, seperti pemandangan yang sering kita saksikan di objek-objek wisata pantai didaerah lain. Namun, menurut hemat pemikiran gue, hal tersebut justru memberikan dampak positif, dimana pesisir pasir pantai masih terlihat bersih dari sampah-sampah yang terkadang ditinggalkan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab. Sehingga dengan keberadaan kolam renang tersebut, membuat sedikit pengunjung yang gejeburan dipantai.

Hal lain yang juga terdapat di kawan pantai ini adalah, keberadaan Pulai Simping. Pulau yang beberapa waktu lalu gue ketahui masuk dalam kategori Pulau-pulau terkecil dunia versi salah satu acara informasi di televisi swasta, merupakan secuil daratan tak berpenghuni. Di atas daratan pulau tersebut biasanya dipergunakan untuk acara peribadatan etnis tertentu. Hal ini nampak dari adanya sarana ibadah yang didirikan diatasnya. Untuk mencapai ke daratan pulau tersebut, kita dapat berjalan menggunakan jembatan kecil yang sengaja dibangun oleh pengelola setempat, dimana jembatan tersebut menghubungkan bibir pantai dengan dataran pulau. Disore hari saat terbenam matahari, jembatan tersebut menambah kesan cantiknya keberadaan Pulau Simping.

Tak terasa hari semakin sore, perjalanan gue masih harus dilanjutkan. Sebelum meninggalkan lokasi, sedikit hati gue tersenyum penuh doa,..”semoga suatu saat dapat mengajak kalian kemari,…amin”

Pontianak, 14 Juli ’13 / 16.37
Dedicated to my dear wife & little prince
“sorry have’t been able to visit here…”

IMG_2363

IMG_2364

IMG_2366

IMG_2370

Hei Jiwa Yagn Disana

Posted in Pengalaman Pribadi on Mei 21, 2013 by radityariefananda

Hei jiwa yang disana
Dengarlah aku mulai bersuara
Meskipun ini terdengar lirih
Tapi dengarlah,…

Hei jiwa yang di sana
Hati ini ingin berontak
Jiwa ini ingin pergi
Meski logika terus menghalangi,…

Hei jiwa yang di sana
Cobalah berteriak
Disamping telinga hatiku
Cambuk aku dengan belati doamu,…

Hei jiwa yang disana
Kemari datanglah dengan hasratmu
Peluk aku dengan sukamu
Terangi aku dengan dendang petuahmu,..

Hei jiwa yang disana,..
Cahaya ini temaram
Terangilah,..
Jangan kau biarkan meredup,..

Sudut Cafe (Bagian-1)

Posted in Pengalaman Pribadi on Oktober 20, 2012 by radityariefananda

Yup,..gue terdampar di sudut salah satu cafe di kota ini. Mampus,..!

Beberapa menit lalu, gue gak berniat untuk berada disini. Beberapa menit lalu yang terbesit di otak gue adalah untuk hangout cari makan malam mencukupi kebutuhan perut yang mulai keroncongan. Sebuah rutinitas malam sebagai warga pelancong di kota orang yang hampir tiap malam gue lakuin. Maklum semenjak berada dikota ini, gue menjadi orang yang gak suka menyediakan santapan makan malam sendiri di rumah (baca: kost).

Niatan lain malam ini sebelum keluar dari tempurung adalah untuk meluncur ke sebuah rental film yang sudah menjadi langganan gue semenjak pindah tugas di tanah antah berantah ini. Yeeaahh..gue cukup merasa terhibur setiap week end tiba, dengan deretan film – film yang gue sewa untuk mengisi akhir pekan yang kadang menjemukan. Hey…I’m lonely man in this fucking city..! haha…!.

Tapi, niatan gue itu juga sekejap sirna saat speedometer gue Cuma bisa menunjukan kecepatan 5 KM/Jam,..shit,..it’s so crowded. Malam minggu membuat beberapa jalur di kota ini terasa penuh dengan pengguna jalan, terutama sepeda motor yang memadati ruas – ruas jalan. Gak heran juga sih sebenarnya, ini malam minggu, malamnya muda mudi bergentayangan have fun or sekedar nongkrong – nongkrong buang kentut dipinggir jalan sama pasangannya yang siap dicumbu rayu dengan pasrahnya hehe…

Didepan sebuah gedung yang menjadi aset kota ini, gue memutar halun untuk mengambil jalur putar balik kembali ke arah rumah. Udahlah,…gue putusin aja untuk mampir di cafe, sekedar online untuk membaca artikel – artikel berita online atau sekedar surfing di dunia maya,..dan atau pun menulis, hobi yang telah lama tertinggal dan mendadak gue kangenin,..

Lima menit berlalu, dan kini gue sudah berada didepan cafe tujuan. Berdiri di area parkiran, mata gue mencoba melongok-longok meja mana yang bisa gue jadikan tempat yang nyaman untuk duduk. Yupi,…meja terpojok jadi incaran. Gue emang demen sama yang mojok-mojok dan terpojok hihi,..

Dentuman musik cafe mulai terdengar saat gue mulai memasuki ruangan yang mulai dipenuhi pengunjung yang rata-rata adalah komunitas ABG. Sebagian besar dengan laptop masing – masing yang sudah terkoneksi dengan jaringan nirkabel wi-fi di cafe ini. Dan,…pastinya pesbuk jadi tontonan utama di laptop mereka. Para pesbuker,..
Di ujung sudut lain, nampak juga beberapa pasang ABG yang mungkin sedang dimabuk cinta. Dugaan gue itu diperkuat dengan polah dan gaya duduk mereka yang nampak mesra. Sesekali si-cowok menyeka rambut ceweknya yang mungkin kurang pas menutupi bagian mata. Tapi sumpah, gue perhatikan tuh rambut si-cewek rapih dan baik – baik aja kok, mungkin sang pria ingin menunjukan sisi romantis nya, walau dengan cara yang jadul. Atau mungkin juga sang pria terlalu berlebihan menghayati keromantisan hikayat cinta dalam karya – karya Kahlil Gibran, sehingga rambut yang baik – baik aja pada posisinya harus di seka juga demi memunculkan kesan romantis dan perhatian.

Kini gue sudah terduduk di salah satu meja kosong disudut kafe ini. Persis dimeja samping gue, juga duduk sepasang ABG. Tapi yang ini sedikit menggelitik pandangan gue. Sang pria, sibuk dengan laptop dan facebook nya, sedang kan si-wanita nya nontonin cowoknya yang asik chatting dengan temannya-teman nya di media sosial tersebut. sesekali si-cewek mengotak – atik handphone dan kembali fokus menyaksikan pasangannya chatting. What a funies date,..! hahaha,…

Jarum jam tangan gue sudah menunjukkan pukul 20.56, saat gue mencoba menyalakan laptop dan memesan menu pesanan kepada salah seorang waitres yang melintas. Dengan segera gue aktifkan konektifitas internet wi-fi dengan login dan password yang diberikan oleh petugas kafe. Koneksi terhubung,..
Beberapa alamat blog dan portal news online mulai gue jelajahi. Sambil menunggu loading beberapa alamat blog yang belum terbuka, mata ini coba membaca beberapa artikel berita untuk sekedar meng-update kebutuhan akan informasi. Berita regional, nasional sampai internasional menjadi pilihan favorit bacaan malam ini. Gak ketinggalan pula kesehatan dan sex menjadi bahan informasi yang gue lalap abis dalam beberapa menit. Beberapa blog sudah terbuka,..

.B.E.R.S.A.M.B.U.N.G.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.